SEMARANG — Hampir separuh dari 850 kota besar di Eropa kini berada dalam kondisi tingkat stres panas tertinggi yang pernah tercatat. Para peneliti cuaca ekstrem menyebut gelombang panas kali ini jauh lebih parah dibandingkan fenomena serupa pada 1976, yang saat itu suhu hanya naik 3,5 derajat Celcius.
Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, menyebut peristiwa ini sebagai yang paling meluas dalam sejarah Eropa. “Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa,” ujarnya dalam pernyataan yang dirilis pekan lalu.
Fenomena heat dome atau kubah panas menjadi pemicu langsung suhu ekstrem di kawasan Eropa Barat. Sistem tekanan tinggi menjebak udara panas dan membawa aliran udara hangat dari Gurun Sahara — pola yang sebenarnya umum terjadi saat musim panas.
Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa pemanasan global membuat kondisi ini menghasilkan suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan biasanya. Analisis WWA menunjukkan bahwa penumpukan polusi karbon di bumi mempercepat laju kenaikan suhu secara drastis.
Bagian wilayah Eropa Barat melaporkan lonjakan drastis dalam kasus darurat medis. Media sosial bahkan diramaikan dengan unggahan yang menunjukkan angka kematian cukup tinggi di wilayah terdampak.
Carolina Pereira Marghinda dari Red Cross Red Crescent Climate Centre mengungkapkan bahwa sejak gelombang panas besar melanda Eropa pada 2003, banyak negara telah mengalokasikan investasi untuk memperkuat sistem peringatan dini dan strategi mitigasi. Namun, intensitas gelombang panas yang terus meningkat membuat langkah-langkah tersebut tidak lagi cukup.
WWA membantah anggapan yang mengaitkan gelombang panas ini semata-mata dengan variasi iklim alami, termasuk pengaruh fenomena El Nino yang sedang berkembang di Samudra Pasifik. Melalui serangkaian analisis ilmiah yang ketat, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan iklim merupakan faktor utama yang memperparah kejadian ini.
“Peristiwa ini tidak dapat dijelaskan hanya sebagai bagian dari siklus cuaca alami,” demikian pernyataan WWA dalam laporan terbarunya.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa kondisi lebih ekstrem kemungkinan akan terjadi di masa depan jika emisi karbon tidak segera ditekan. Meski Eropa menjadi episentrum saat ini, dampak perubahan iklim bersifat global dan dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia, termasuk potensi cuaca ekstrem dan gelombang panas di kawasan tropis.
Pemerintah daerah di Jawa Tengah pun diminta mulai memperkuat sistem peringatan dini cuaca ekstrem, mengingat pengalaman Eropa menunjukkan bahwa mitigasi yang ada saat ini belum cukup untuk menghadapi risiko yang terus bertambah. (*)