JAWA TENGAH — Ancaman akumulasi kartu kuning membayangi langkah Prancis di Piala Dunia 2026. Pelatih Didier Deschamps kini dihadapkan pada dilema taktis: tetap memainkan ketiga pilarnya melawan Maroko dengan risiko kehilangan mereka di semifinal, atau melakukan rotasi demi mengamankan skuad untuk laga berikutnya.
Ketiga pemain tersebut mendapat kartu kuning saat Prancis menaklukkan Paraguay di babak 16 besar. Pertandingan berlangsung keras dan penuh provokasi dari skuad La Albirroja yang sengaja merusak ritme permainan Les Bleus.
Olise, Barcola, dan Kone terpaksa melanggar untuk meredam agresivitas lawan. Ironisnya, wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, dinilai terlalu permisif karena tidak memberikan satu pun kartu kuning untuk pemain Paraguay sepanjang laga.
Kepemimpinan wasit yang longgar itu justru membuat pemain Prancis menjadi korban. Mereka harus membayar mahal upaya bertahan dari gempuran fisik lawan dengan kartu kuning yang kini mengancam kelangsungan turnamen mereka.
Prancis akhirnya memenangi laga sengit itu berkat gol penalti Kylian Mbappe. Penalti diberikan setelah Desire Doue dilanggar pemain Paraguay di kotak terlarang.
Namun, kemenangan itu terasa pahit. Ancaman skorsing akumulasi kartu kini menghantui perjalanan Prancis ke babak semifinal. Jika ketiganya kembali menerima kartu kuning saat melawan Maroko, skenario terburuk akan terjadi.
Deschamps harus mengambil keputusan sulit. Memainkan Olise, Barcola, dan Kone sejak awal memang meningkatkan peluang lolos ke semifinal. Tapi jika salah satu dari mereka mendapat kartu kuning, Prancis akan kehilangan pemain penting di laga empat besar.
Sebaliknya, jika Deschamps melakukan rotasi dengan menyimpan mereka di bangku cadangan, kekuatan lini tengah dan sayap Prancis bisa berkurang drastis. Maroko bukan lawan yang bisa diremehkan di babak 8 besar.
Laga perempat final ini dipastikan berjalan dengan intensitas tinggi dan emosional. Wasit kemungkinan akan menjadi sorotan lagi, mengingat pengalaman pahit di babak sebelumnya.
Prancis kini harus bermain cerdas. Bukan hanya soal taktik, tapi juga soal disiplin individu agar tidak kehilangan pemain kunci di momen krusial turnamen.