JAWA TENGAH — Proyek bernama Hami ini mulai beroperasi secara komersial pada 1 Juli 2026, setelah pertama kali tersambung ke jaringan listrik pada 18 September 2025. Total investasi yang digelontorkan mencapai CNY 3,53 miliar atau setara Rp 8,4 triliun (kurs Rp 16.000).
Kompleks seluas 1.817 hektar di kaki selatan Pegunungan Tianshan ini menggabungkan dua jenis pembangkit. Sebanyak 900 MW adalah panel surya konvensional (PV) yang langsung menyuplai jaringan saat siang hari.
Sedangkan 100 MW sisanya adalah concentrated solar power (CSP) yang menggunakan 260.000 cermin pelacak seluas 800.000 meter persegi. Cermin-cermin ini memfokuskan sinar matahari untuk memanaskan garam cair hingga 550 derajat Celcius. Panas itulah yang disimpan, lalu dipakai untuk menghasilkan uap dan memutar turbin setelah matahari terbenam.
Niu Jianle, direktur proyek CTG Hami, menegaskan bahwa teknologi penyimpanan panas ini bukanlah pesaing langsung baterai litium. "Baterai litium dirancang untuk peak shaving durasi pendek, sementara sistem PV hanya menghasilkan listrik di siang hari. Penyimpanan termal CSP unggul dalam kapasitas besar, siklus pengosongan panjang, dan emisi operasional nol," jelasnya dalam rilis resmi.
Output listrik 8 jam setelah gelap hanya berasal dari unit CSP 100 MW, bukan total kapasitas 1 GW. Meski begitu, ini adalah blok listrik yang dapat diandalkan untuk malam hari — sesuatu yang sulit dilakukan panel surya biasa.
CTG menggunakan desain linear Fresnel yang diklaim meningkatkan efisiensi konversi panas hingga 10% dibanding sistem Fresnel konvensional. Tata letak 46 loop memungkinkan pembangkit tetap beroperasi saat perawatan. Kontroler terpusat mampu membagi output antara sisi PV dan termal dengan akurasi frekuensi sekitar 0,02 Hz dan respons di bawah satu detik.
Pada kapasitas penuh, kompleks ini diperkirakan menghasilkan 2,07 TWh listrik per tahun — cukup untuk sekitar 830.000 rumah tangga. Proyek ini juga memangkas emisi CO2 sekitar 1,63 juta ton per tahun dan mendorong tingkat utilisasi energi terbarukan di Xinjiang di atas 95%.
Proyek Hami menggusur pembangkit Noor Energy 1 berkekuatan 950 MW di Dubai sebagai PLTS hybrid CSP-PV terbesar di dunia.
CTG berencana memperluas basis Hami menjadi 3 GW pada fase kedua. China Energy Engineering Corp juga sudah memulai pembangunan proyek hybrid 1,5 GW terpisah — 1,3 GW PV dipasangkan dengan 150 MW CSP — yang akan menggeser rekor Hami begitu beroperasi.
Namun, tantangan utama tetap pada biaya. CSP secara historis lebih mahal per kWh dibanding PV-plus-baterai, dan harga litium terus turun. Ujian sesungguhnya bagi Hami bukanlah apakah teknologinya bekerja, melainkan apakah biaya penyimpanan garam cair selama delapan jam bisa bersaing dengan baterai yang semakin murah setiap kuartal.