Jawa Tengah bukan cuma Candi Borobudur atau Malioboro. Di balik hiruk-pikuk kota, ada desa-desa yang tetap memegang teguh tradisi. Bagi warga lokal yang ingin liburan beda atau perantau yang kangen akar budaya, enam desa wisata ini menawarkan pengalaman autentik. Bukan sekadar foto-foto, tapi menyaksikan langsung ritual yang sudah berusia ratusan tahun.
Dari tradisi perang bantal hingga ritual bersih desa, setiap lokasi punya cerita. Berikut enam desa wisata di Jawa Tengah dengan tradisi unik yang masih lestari hingga kini.
Desa Kandri di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, rutin menggelar Merti Bumi setiap bulan Sura (Muharram). Warga mengarak gunungan hasil bumi dari Balai Desa menuju Sendang Joko Tingkir, sumber mata air utama desa.
Ritual ini bentuk syukur atas panen dan doa agar sumber air tak pernah kering. Pengunjung bisa ikut prosesi kirab atau sekadar menyaksikan dari pinggir jalan. Waktu terbaik datang ya pas bulan Sura—cek kalender Jawa sebelum berangkat.
Di Desa Karanganyar, Kecamatan Karanganyar, ada tradisi Sadranan yang digelar menjelang Ramadan. Warga membersihkan makam leluhur, terutama Makam Ki Ageng Gribig, lalu mengadakan selamatan bersama.
Uniknya, acara ini dibarengi pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Bukan cuma ritual, tapi juga hiburan rakyat yang memperkuat gotong royong. Kalau mau merasakan atmosfernya, datanglah saat akhir bulan Syaban.
Sembungan adalah desa tertinggi di Pulau Jawa—terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Tradisi Syawalan dihelat seminggu setelah Lebaran, berupa kirab gunungan ketupat dan sayuran dari Masjid Baiturrahman menuju Alun-Alun Sembungan.
Warga berebut gunungan karena percaya membawa berkah. Suasananya dingin, kabut tipis menyelimuti, dan latar Gunung Sindoro-Sumbing bikin pengalaman makin berkesan. Jangan lupa bawa jaket tebal.
Di Desa Tenganan, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, ada tradisi Baritan yang digelar setiap bulan Selasa Kliwon di bulan Sapar. Warga membawa sesaji ke pertigaan desa sebagai tolak bala.
Setelah ritual, acara dilanjutkan dengan tayub—tarian pergaulan yang diiringi gamelan. Perempuan dan laki-laki menari bersama, simbol kerukunan. Tradisi ini masih dijaga ketat oleh sesepuh desa. Pengunjung boleh ikut menari, asal mengikuti aturan adat setempat.
Meski secara administratif masuk DIY, Desa Nglanggeran di Kecamatan Patuk sering jadi destinasi wisatawan Jawa Tengah karena jaraknya dekat dari perbatasan. Tradisi Wiwitan digelar sebelum panen padi—petani membawa sesaji ke sawah sebagai ungkapan terima kasih pada Dewi Sri.
Puncaknya saat Rasulan, semacam bersih desa yang diisi pertunjukan jathilan dan wayang kulit. Pengunjung bisa menginap di homestay warga dan ikut memproses sesaji. Pengalaman yang langka di era sekarang.
Desa Ketingan di Kecamatan Mlati, Sleman, punya tradisi Merti Dusun yang digelar setiap tahun pada bulan Ruwah. Warga mengarak pusaka peninggalan leluhur—berupa keris dan tombak—keliling kampung.
Prosesi diiringi musik gamelan dan tarian tradisional. Yang menarik, semua warga tanpa terkecuali ikut serta. Dari anak-anak sampai orang tua. Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 200 tahun. Datanglah saat bulan Ruwah untuk menyaksikan langsung.
1. Apakah semua desa wisata ini gratis dikunjungi?
Masuk ke area desa biasanya gratis. Tapi kalau mau ikut ritual tertentu atau menginap di homestay, ada biaya sukarela atau tarif tertentu. Cek langsung ke pengelola desa wisata masing-masing.
2. Kapan waktu terbaik mengunjungi desa-desa ini?
Sesuaikan dengan jadwal tradisi masing-masing. Umumnya bulan Sura (Muharram), Sapar, Ruwah, atau Syawal. Pantau akun media sosial desa wisata atau hubungi perangkat desa setempat.
3. Apakah pengunjung boleh ikut serta dalam ritual?
Boleh, asal mengikuti aturan adat. Biasanya pengunjung diminta berpakaian sopan, tidak bicara keras saat prosesi, dan tidak mengambil foto sembarangan di area sakral.
4. Bagaimana akses menuju desa-desa tersebut?
Akses bervariasi. Desa Kandri dan Ketingan mudah dijangkau kendaraan roda dua atau empat. Desa Sembungan butuh kendaraan 4x4 karena jalannya menanjak dan licin. Sebaiknya gunakan kendaraan pribadi atau sewa mobil.
5. Apakah ada penginapan di sekitar desa wisata?
Beberapa desa seperti Nglanggeran dan Kandri punya homestay warga. Untuk desa lain, penginapan umumnya ada di kota kecamatan terdekat. Pesan jauh-jauh hari kalau berkunjung saat musim tradisi.
Enam desa wisata ini bukti bahwa tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan napas kehidupan masyarakat Jawa Tengah. Kalau Anda ingin liburan yang bermakna, datanglah saat ritual berlangsung. Rasakan langsung getaran budayanya. Bukan cuma lewat layar ponsel.