TEGAL — Puluhan siswa SDN Kejambon 10 Kota Tegal mendapat pelatihan langsung memilah sampah dan mengolah limbah organik menjadi eco-enzyme. Kegiatan yang digelar bersama Bank Sampah Librale Kejambon ini diikuti seluruh siswa dan guru di halaman sekolah, Kamis (11/6/2026).
Dalam simulasi pemilahan, Tim Bank Sampah Librale memperkenalkan tiga kategori besar sampah yang wajib dipisahkan mulai hari itu: organik, anorganik, dan botol plastik. Narasumber utama, Ritno, menegaskan kebiasaan ini harus dimulai dari sumbernya agar sampah tidak lagi tercampur begitu saja.
"Kita melatih anak-anak untuk tidak lagi mencampur sampah. Di sekolah ini, sampah mulai hari ini wajib dipisah menjadi tiga kategori besar, yakni organik, anorganik, dan botol plastik," ujar Ritno saat memberikan simulasi kepada para siswa.
Sampah organik berupa sisa makanan dan dedaunan diarahkan untuk diolah menjadi kompos atau bahan baku eco-enzyme. Sementara sampah anorganik seperti kertas, kardus, dan kemasan plastik kering dikumpulkan untuk disalurkan ke Bank Sampah Librale.
Khusus untuk botol plastik, para siswa diajarkan untuk memisahkannya dalam kondisi bersih dan tanpa tutup. Ritno menjelaskan, cara ini membuat nilai ekonominya lebih tinggi saat didaur ulang. Sebaliknya, botol yang tercampur sampah basah justru akan menurunkan harga jual dan mencemari lingkungan.
"Jika botol plastik bercampur dengan sampah organik yang basah, nilainya akan turun dan hanya mengotori lingkungan. Kalau dipisahkan, ini bisa menjadi tabungan berharga bagi sekolah," katanya.
Selain pemilahan, siswa juga diajak mempraktikkan pembuatan eco-enzyme dengan memanfaatkan limbah kulit dan bonggol nanas. Limbah ini diperoleh dari pedagang buah di sekitar Kelurahan Kejambon. Menurut Ritno, limbah nanas dipilih karena menghasilkan cairan fermentasi dengan aroma yang lebih segar dibandingkan limbah organik lainnya.
Kepala SDN Kejambon 10, Fitri Taryani, menyebut kerja sama dengan Bank Sampah Librale tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Pihak sekolah berencana melanjutkan program edukasi dan pendampingan secara berkala.
"Pendidikan lingkungan harus dibiasakan sejak dini agar menjadi bagian dari karakter peserta didik," ujar Fitri.