Bukan dari Trah Dalang, 15 Anak di Klaten Unjuk Gigi di Lomba Dalang Cilik Se-Kabupaten

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 19:13:01 WIB
Lima belas anak dari berbagai sanggar di Klaten tampil dalam lomba dalang cilik se-Kabupaten, mayoritas bukan dari keturunan dalang.

KLATEN — Panggung lomba dalang anak se-Kabupaten Klaten menjadi ajang pembuktian bahwa seni wayang tak lagi eksklusif milik keturunan dalang. Sebanyak 15 anak dari berbagai sanggar tampil memainkan tokoh-tokoh pewayangan dengan percaya diri, meski sebagian besar bukan lahir dari trah pedalangan.

Belajar dari Nol, Bukan Warisan Darah

Fakta ini menjadi sorotan utama dalam gelaran yang digelar di Pendopo Kabupaten Klaten tersebut. Anak-anak yang tampil rata-rata baru belajar wayang kurang dari dua tahun, namun sudah mampu membawakan lakon-lakon pendek dengan struktur pakeliran yang benar.

“Mayoritas peserta bukan anak dalang. Mereka adalah anak-anak dari masyarakat awam yang tiba-tiba jatuh cinta pada wayang dan belajar di sanggar-sanggar,” ujar panitia penyelenggara.

Regenerasi Dalang dari Akar Rumput

Fenomena ini dinilai sebagai angin segar bagi regenerasi dalang di Klaten. Selama ini, profesi dalang kerap dianggap tertutup dan hanya diwariskan secara turun-temurun. Lomba ini membuktikan bahwa minat terhadap wayang bisa tumbuh dari mana saja, tanpa harus punya garis keturunan dalang.

Para peserta tampil dengan durasi masing-masing 15 hingga 20 menit. Mereka membawakan lakon-lakon populer seperti Gatotkaca Gugur dan Pandawa Seda dengan kostum lengkap. Meski gerakannya masih kaku di beberapa bagian, penghayatan terhadap karakter tokoh sudah mulai terlihat.

Sanggar Jadi Ujung Tombak Pelestarian

Lomba ini juga menjadi ajang unjuk kemampuan sanggar-sanggar wayang di Klaten. Beberapa sanggar yang mengirimkan peserta antara lain Sanggar Surya Kencana, Sanggar Tjipta Boedaja, dan Sanggar Wasesa.

Para pengurus sanggar mengaku kewalahan menampung minat anak-anak yang ingin belajar wayang. “Setiap minggu selalu ada anak baru yang datang. Mereka datang sendiri, bukan karena disuruh orang tua,” kata salah satu pelatih sanggar.

Wayang di Mata Anak Muda Klaten

Ketertarikan anak-anak terhadap wayang tak lepas dari pendekatan pengajaran di sanggar yang lebih santai dan tidak kaku. Mereka tak hanya diajari teknik memainkan wayang, tetapi juga filosofi di balik setiap tokoh.

“Dulu saya pikir wayang itu kuno. Tapi setelah ikut sanggar, ternyata seru. Karakternya banyak, ceritanya juga nggak monoton,” ujar Adi, 11 tahun, salah satu peserta lomba.

Lomba dalang anak ini rencananya akan digelar rutin setiap tahun. Pemerintah Kabupaten Klaten disebut akan memasukkan agenda ini ke dalam kalender budaya daerah untuk menjaga keberlanjutan minat anak-anak terhadap seni pedalangan.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: radarsolo.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top