Proyek strategis nasional yang dibangun sejak 2019 hingga 2024 itu memiliki daya tampung besar yang dirancang mengairi ribuan hektare sawah tadah hujan di wilayah Karanganyar dan sekitarnya. Sumanto yang hadir langsung dalam seremoni peresmian mengatakan bendungan ini akan menjadi penopang utama ketahanan pangan daerah.
“Keberadaan bendungan ini akan menjadi penopang utama ketahanan pangan kita, karena aliran airnya diharapkan mampu mengairi ribuan hektare sawah milik petani yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan,” ujar Sumanto dalam keterangan pers, Jumat.
Selama ini, tantangan terbesar petani di lereng Gunung Lawu adalah ketersediaan air saat musim kemarau. Setiap tahun, ribuan hektare sawah terancam puso karena sumber air mengering. Pola tanam pun terpaksa diubah menjadi palawija yang nilai ekonominya lebih rendah.
Dengan bendungan ini, Sumanto optimistis frekuensi tanam dan panen bisa meningkat drastis. “Jika dulu petani hanya bisa pasrah atau menanam palawija di musim kering, sekarang mereka bisa panen lebih sering dalam setahun karena tidak akan kekurangan air lagi,” katanya.
Bupati Karanganyar Rober Christanto menyambut baik peresmian bendungan tersebut. Ia berharap dampaknya langsung dirasakan petani, terutama dalam perluasan area tanam. “Tentu kami berharap dampaknya sangat baik bagi Karanganyar, salah satunya meningkatkan luas sawah yang bisa ditanami,” ujar Rober.
Namun, Rober mengingatkan agar pembangunan jaringan irigasi primer dan sekunder dari bendungan menuju lahan pertanian segera dituntaskan. Saat ini lahan sudah tersedia, tetapi saluran air ke sawah-sawah calon penerima manfaat masih perlu ditambah. “Manfaat bendungan akan maksimal kalau irigasinya rampung,” tegasnya.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Gatut Bayuadji mengungkapkan pembangunan Bendungan Jlantah menelan anggaran hingga Rp1,08 triliun. Proyek ini menjadi salah satu infrastruktur kunci di Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Sumanto menambahkan, pasokan air ke saluran irigasi sekunder dan tersier kini bisa diatur secara merata sepanjang tahun. “Harapannya, dengan daya tampung Bendungan Jlantah yang besar, pasokan air ke saluran irigasi sekunder dan tersier kini bisa diatur secara merata sepanjang tahun,” pungkasnya.