SEMARANG — Ratusan calon tenaga kesehatan dari STIKes Elisabeth Semarang menggelar prosesi Ucap Janji sebagai tanda kesiapan mental dan komitmen profesi sebelum memasuki masa praktik klinik. Dari total peserta, 13 mahasiswa berasal dari Program D3 Keperawatan, 45 mahasiswa dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, dan 11 mahasiswa dari Program Studi S1 Ilmu Gizi.
Ketua Panitia Ucap Janji, Maria Suryani, menjelaskan bahwa mahasiswa D3 dan S1 Keperawatan yang mengikuti prosesi ini merupakan mahasiswa tingkat pertama atau semester satu. Sementara itu, mahasiswa S1 Ilmu Gizi yang turut serta berada di tingkat tiga dengan catatan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat baik.
“Melalui ucap janji ini, mahasiswa menyatakan bahwa mereka benar-benar siap dan mantap untuk mengabdikan diri di dunia kesehatan. Ini menjadi bentuk komitmen sebelum mereka terjun memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Maria.
Setelah menjalani pembelajaran teori di kelas dan praktik di laboratorium, mahasiswa D3 dan S1 Keperawatan dijadwalkan memulai praktik klinik pada semester tiga. Mereka akan berhadapan langsung dengan pasien di rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Untuk mendukung hal tersebut, STIKes Elisabeth Semarang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi, di antaranya Rumah Sakit Elisabeth Semarang, Rumah Sakit Ungaran, Rumah Sakit Tugurejo, serta puskesmas dan lembaga di bawah Dinas Sosial.
Ketua STIKes Elisabeth Semarang, Sr. Emirensiana Anu Nono, OSF., MAN, menegaskan bahwa meskipun mahasiswa sudah dibekali teori dan keterampilan dasar, situasi di lapangan akan berbeda. “Mahasiswa memang sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar, tetapi ketika praktik di rumah sakit mereka akan menghadapi situasi yang nyata. Karena itu mereka harus terus berlatih agar semakin terampil dan percaya diri,” katanya.
Sr. Emirensiana mengakui bahwa pada awal praktik, sebagian mahasiswa kerap merasa gugup atau takut karena baru pertama kali bertemu dan berinteraksi langsung dengan pasien. Oleh karena itu, mahasiswa akan lebih dulu melakukan observasi sebelum secara bertahap diberi kesempatan melakukan tindakan sesuai kompetensinya.
“Rasa takut itu wajar. Dengan latihan yang berulang dan pendampingan dari dosen maupun pembimbing klinik, kepercayaan diri mereka akan tumbuh dan kemampuan praktiknya semakin baik,” ujarnya.
Selama praktik, mahasiswa tidak dilepas begitu saja. Setiap tindakan yang dilakukan akan didampingi, diarahkan, dan dievaluasi oleh pembimbing klinik di rumah sakit. Sr. Emirensiana menambahkan, perkembangan teknologi kesehatan yang modern juga menuntut mahasiswa mampu beradaptasi dengan berbagai peralatan medis yang tersedia di fasilitas kesehatan.
Maria Suryani berharap seluruh mahasiswa yang telah mengucapkan janji mampu memegang teguh komitmen tersebut selama menjalani pendidikan hingga memasuki dunia kerja. “Harapan kami, mereka benar-benar menepati janji yang telah diucapkan di hadapan Tuhan. Mereka harus tetap setia pada profesinya, baik sebagai perawat maupun ahli gizi, serta memberikan pelayanan kesehatan dengan penuh tanggung jawab dan integritas,” tuturnya.
Sr. Emirensiana pun berpesan agar mahasiswa tidak takut memasuki dunia praktik klinik. “Jangan takut menjalani praktik. Kami akan selalu mendampingi, membimbing, dan mengevaluasi keterampilan maupun sikap mahasiswa. Kami juga bekerja sama dengan rumah sakit agar proses pembelajaran berjalan dengan baik sehingga mahasiswa siap menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” pungkasnya.