JAWA TENGAH — Kolam renang seluas delapan lintasan di kompleks GOR Jakarta Timur itu, setiap pagi dan sore, dipenuhi oleh anak-anak hingga remaja. Mereka datang dengan satu tujuan: menjadi perenang andalan. Tempat yang dulu hanya dikenal sebagai sarana rekreasi kini perlahan berubah fungsi menjadi laboratorium atlet.
Pengelola GOR Jakarta Timur mencatat peningkatan jumlah peserta latihan hingga 30 persen dalam setahun terakhir. Tak hanya warga sekitar, atlet dari klub-klub kecil di Jakarta juga mulai menjadikan kolam ini sebagai basis latihan rutin.
“Kami melihat potensi besar di sini. Fasilitas standar dan biaya terjangkau membuat banyak orang tua mendaftarkan anaknya,” ujar salah satu pelatih di lokasi.
Yang menarik, kolam renang ini bukan fasilitas elite. Tiket masuknya masih dalam jangkauan warga biasa. Namun, standar teknis kolam—mulai dari kedalaman, suhu air, hingga sistem sirkulasi—dinilai memadai untuk latihan teknik dasar hingga menengah.
Beberapa atlet muda binaan bahkan sudah mulai mengikuti kejuaraan daerah. Medali yang diraih di tingkat provinsi menjadi bukti bahwa tempat latihan yang representatif tak selalu harus mahal.
Pengamat olahraga menilai, pembinaan di tingkat grassroots seperti inilah yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kolam renang GOR Jakarta Timur menjadi contoh bagaimana fasilitas publik bisa dioptimalkan untuk mencetak atlet.
“Ini model yang perlu direplikasi. Bukan soal megahnya stadion, tapi konsistensi pembinaan,” kata seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pengelola berencana menjalin kerja sama dengan Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) untuk menyelenggarakan program pemantauan bakat secara berkala. Jika terealisasi, bukan tidak mungkin kolam renang ini akan melahirkan lebih banyak nama yang mengharumkan Indonesia di kancah nasional.