SALATIGA — Persoalan sampah di perkotaan Jawa Tengah dinilai lebih rumit ketimbang di kabupaten. Lahan terbatas dan jumlah penduduk yang besar membuat penanganan sampah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diurai. Hal ini disampaikan Sekda Jateng Sumarno saat membuka Rapat Koordinasi Komwil III Apeksi Tahun 2026 di Salatiga, Kamis (23/7/2026).
Sumarno menjelaskan, keterbatasan lahan di kota menjadi kendala utama. Sementara volume sampah terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk. Ia menekankan bahwa kepala daerah harus menjadikan masalah ini sebagai prioritas kebijakan.
“Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana kita menyadarkan masyarakat di hulunya, produksi sampahnya dan memilahnya,” ujar Sumarno yang mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam acara tersebut.
Alih-alih berfokus pada pengangkutan dan pembuangan akhir, Sekda Jateng mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya. Menurutnya, edukasi kepada warga untuk memilah sampah organik dan anorganik harus digencarkan. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang kian terbatas.
Sumarno menambahkan, kota-kota di Indonesia memiliki peran strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sebuah kota akan berdampak langsung pada kemajuan nasional. Namun, ia menyoroti sejumlah tantangan besar yang dihadapi pemerintah daerah, terutama soal kapasitas fiskal dan pendapatan daerah.
Ketua Komwil III Apeksi yang juga Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan rakor ini merupakan tindak lanjut dari Rakernas XVIII 2026 Apeksi di Medan. Dalam forum itu, telah dirumuskan sepuluh rekomendasi strategis. Beberapa di antaranya adalah penguatan kapasitas fiskal, reformasi keuangan daerah, penataan ruang, serta kerja sama antar-daerah.
Farhan merinci empat program kerja utama Komwil III tahun ini, yaitu:
Farhan mengajak seluruh wali kota anggota Komwil III untuk mengawal setiap rekomendasi dan program yang telah disepakati agar benar-benar menjadi kebijakan nyata di lapangan.