3 Desa Wisata di Jawa Tengah yang Memesona untuk Liburan Alam dan Budaya Otentik

Penulis: Hendra Wijaya  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 17:17:01 WIB
Suasana pagi di Desa Wisata Candirejo, Magelang, tampak seorang wisatawan menaiki dokar melintasi pematang sawah.

Kampung-kampung di Jawa Tengah mulai membuka diri sebagai destinasi wisata sejak satu dekade terakhir. Bukan sekadar homestay atau pemandangan sawah, melainkan ekosistem pariwisata yang dikelola warga dengan prinsip keberlanjutan. Beberapa bahkan masuk daftar desa wisata terbaik versi Kementerian Pariwisata. Namun tidak semua desa siap menerima pengunjung massal. Berikut tiga yang sudah teruji infrastruktur dan keramahannya.

1. Desa Wisata Candirejo, Magelang

Terletak di Kecamatan Borobudur, hanya 3 kilometer dari Candi Borobudur. Candirejo terkenal dengan paket wisata naik dokar atau becak kayuh keliling kampung. Pengunjung bisa ikut membajak sawah, membuat tahu, atau belajar membatik dengan ibu-ibu setempat.

Waktu paling pas berkunjung antara Mei hingga September. Musim kemarau membuat jalan setapak di antara sawah tidak becek. Kalau ingin menghindari keramaian, datanglah di hari kerja—akhir pekan biasanya ramai oleh wisatawan yang menginap di homestay warga.

2. Kawasan Desa Wisata Dieng, Wonosobo

Desa-desa di sekitar Plato Dieng—seperti Dieng Kulon dan Dieng Wetan—sudah lama menjadi tujuan pelancong yang ingin melihat Candi Arjuna, Kawah Sikidang, dan Telaga Warna. Namun yang membuatnya istimewa adalah kehidupan agraris warga yang masih memegang tradisi, seperti ritual potong rambut gimbal anak-anak.

Berkunjunglah pada pagi hari sekitar pukul 06.00–08.00 untuk menikmati embun beku di ladang kentang. Suhu bisa turun hingga 5°C, jadi siapkan jaket tebal. Hindari datang saat libur Lebaran atau Natal karena akses jalan sempit kerap macet.

3. Desa Wisata Lerep, Ungaran

Berada di lereng Gunung Ungaran, Desa Lerep menawarkan pemandangan Kota Semarang dari ketinggian. Pengelola setempat menyediakan paket trekking ke air terjung Curug Lawe dan Curug Semirang. Sepanjang jalan kita melewati kebun kopi dan cengkeh milik warga.

Desa ini cocok untuk perjalanan setengah hari dari Semarang. Cukup 40 menit berkendara pusat kota. Jalannya menanjak dan berkelok, jadi gunakan kendaraan yang prima. Sore hari menjadi waktu favorit karena langit jingga membentang di atas perbukitan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang membedakan desa wisata dengan agrowisata biasa?
Desa wisata mengutamakan interaksi dengan masyarakat, bukan sekadar melihat kebun. Pengunjung diajak ikut kegiatan sehari-hari warga, seperti memanen, memasak, atau mengikuti ritual adat.

Apakah harus menginap untuk menikmati desa wisata?
Tidak selalu. Banyak desa menyediakan paket tur setengah hari. Namun menginap di homestay memberi pengalaman lebih mendalam—makan masakan rumahan dan ngobrol malam dengan tuan rumah.

Bagaimana cara memesan paket wisata ke desa-desa ini?
Umumnya melalui pengelola desa wisata setempat. Cari kontak resmi di media sosial atau tanya langsung ke kantor desa. Sebaiknya konfirmasi ketersediaan homestay tiga hari sebelumnya, terutama akhir pekan.

Apa saja barang yang harus dibawa?
Sepatu trekking ringan, jaket, topi, minum sendiri, dan uang tunai karena tidak semua tempat punya mesin EDC. Di desa yang cukup dingin, bawa juga obat pribadi.

Apakah desa wisata ramah untuk anak-anak?
Sebagian besar aman. Candirejo punya jalur dokar yang nyaman untuk balita. Di Dieng perhatikan suhu dingin ekstrem. Lerep jalur trekkingnya sedang—cukup menantang untuk anak usia sekolah.

Memilih desa wisata bukan sekadar soal pemandangan, melainkan seberapa siap kita menghargai ritme kehidupan lokal. Tiga desa di atas hanyalah permulaan. Masih ada puluhan lain di Jawa Tengah yang menunggu dijelajahi—dengan catatan, selalu cek kondisi terkini sebelum berangkat.

Reporter: Hendra Wijaya
Back to top