PATI — Kepala BBWS Pemali Juwana, Sudarto, langsung meninjau lokasi kebocoran pada Senin (27/7/2026) untuk memastikan percepatan pengerjaan. Ia optimistis proses penutupan kebocoran karet bendungan bisa tuntas dalam kurun waktu 5×24 jam.
“Kami telah melakukan perbaikan di Bendung Karet Sungai Juwana, alhamdulilah proses sudah 50 persen. Kurang lebih 5×24 jam sudah selesai, dan bisa dimanfaatkan untuk masyarakat di sepanjang sungai,” kata Sudarto dalam keterangannya.
Bendung yang baru diresmikan pada 2024 ini memiliki peran krusial saat musim kemarau. Aliran Sungai Juwana yang terbentang dari Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, hingga Kecamatan Juwana, Pati, menjadi andalan irigasi bagi ribuan petak sawah.
“Bendung ini memberikan manfaat untuk 2.500 hektare sawah, sehingga ini bisa menyelamatkan ancaman kekeringan yang mungkin terjadi,” imbuh Sudarto.
Jika kebocoran tidak segera diatasi, dikhawatirkan bendung tak mampu membendung aliran sungai secara optimal. Kondisi itu akan langsung berimbas pada masa tanam petani di musim kemarau yang tengah berlangsung.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengaku telah berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juwana. Pemerintah daerah bahkan sudah melayangkan surat resmi berisi keluhan para petani yang mulai resah.
“Kami akan ketemu dengan BBWS, surat sudah kami layangkan keluhan petani. Kalau bendungannya rusak ada ribuan hektare sawah yang tidak bisa tanam di musim kemarau,” kata Chandra.
Sejumlah pekerja dari BBWS telah diterjunkan ke lokasi untuk menutup titik kebocoran pada karet bendungan. Langkah ini dinilai krusial mengingat fungsi utama bendung karet adalah menahan air laut yang masuk ke sungai agar tidak mengganggu kualitas air baku untuk pertanian.