Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Targetkan Dry Port di Batang Beroperasi dalam Dua Tahun, 70 Persen Kontainer Masih Bergantung ke Jakarta dan Surabaya

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:58:01 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menargetkan dry port di Batang beroperasi dalam dua tahun untuk mengurangi ketergantungan pengiriman kontainer ke Jakarta dan Surabaya.

BEKASI — Rencana pembangunan dry port di Jawa Tengah mulai memasuki babak konkret. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menargetkan fasilitas logistik darat itu dapat terealisasi dalam waktu paling lama dua tahun, menyusul penandatanganan kesepahaman awal di kawasan KITB Batang.

“Prinsipnya, dua tahun ke depan dry port harus jadi,” ujar Luthfi di sela kunjungan studi ke Cikarang Dry Port, Kabupaten Bekasi, Sabtu (15/8/2026).

Mengapa Dry Port Mendesak Dibangun di Jateng?

Kebutuhan ini muncul dari ketimpangan distribusi barang. Saat ini, mayoritas kontainer dari pabrik-pabrik di Jateng masih harus menempuh perjalanan jauh ke Tanjung Priok atau Tanjung Perak.

“Sekitar 70 persen kontainer di Jawa Tengah pengirimannya masih banyak ke Jakarta dan Surabaya. Untuk menopang Pelabuhan Tanjung Emas yang kurang maksimal, salah satu solusinya adalah dry port,” kata Luthfi.

Dengan adanya terminal di daratan, layanan kepabeanan, penyimpanan, dan konsolidasi muatan bisa dilakukan dekat kawasan industri. Hal ini diharapkan menekan ongkos angkut dan mempercepat waktu tempuh pengiriman.

Dua Lokasi Kandidat, Satu Prioritas Utama

Pemprov Jateng telah mengidentifikasi dua lahan potensial. Selain KITB Batang, opsi lain berada di Weleri, Kabupaten Kendal, dengan kebutuhan lahan masing-masing sekitar 50 hektare.

Dari dua opsi tersebut, proyek di KITB Batang dinilai lebih siap. Kesepahaman bersama telah dibangun antara PT KAI, Pelindo, KITB, Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), dan BUMD Batang.

Tahapan berikutnya, kata Luthfi, adalah penyusunan studi kelayakan dan penetapan konsultan perencana. Proses ini diminta berjalan cepat agar target pembangunan tidak meleset.

Belajar dari Pengalaman Cikarang Dry Port

Kunjungan ke Cikarang Dry Port, yang beroperasi sejak 2010, menjadi bahan pembanding. Rombongan Jateng yang terdiri dari jajaran Pemprov, pengelola KITB, dan KEK Kendal mempelajari sistem pengelolaan fasilitas tersebut.

Direktur Cikarang Dry Port Noor Yusuf menyebut fasilitasnya kini melayani sekitar 500 perusahaan industri. Jangkauan pengguna mencakup kawasan Tangerang, Cikarang, Cikampek, hingga Bandung.

Ia menilai rencana pembangunan di Jateng memiliki prospek strategis karena dekat dengan kawasan industri yang terus tumbuh. Integrasi antara pusat produksi dan simpul logistik dinilai membuat distribusi lebih efisien.

Jika terealisasi, dry port di Batang maupun Kendal bakal menjadi simpul baru jaringan logistik Jawa Tengah. Arus barang tidak lagi seluruhnya bergantung pada jalur distribusi Jakarta dan Surabaya.

Pemprov Jateng menempatkan proyek ini sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat posisi daerah sebagai pusat industri nasional.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: kabarjateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top