JAWA TENGAH — Upacara peringatan kemerdekaan di Halaman Balai Kota DKI Jakarta, Gambir, menjadi panggung bagi Pramono untuk memaparkan kondisi fundamental ibu kota. Di hadapan jajaran ASN, Forkopimda, dan pemangku kepentingan, ia menyebut ketahanan ekonomi Jakarta sedang berada di jalur yang tepat.
Data yang disampaikan menunjukkan pertumbuhan ekonomi 5,52 persen pada triwulan II 2026. Angka ini disertai inflasi yang tetap terjaga di level 2,5 persen, sebuah kombinasi yang jarang terjadi di tengah gejolak ekonomi global.
“Alhamdulillah, pelaksanaan upacara berlangsung baik, lancar, dan khidmat. Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dikenang dan dirayakan, melainkan amanah yang harus dijaga dan diisi dengan kerja nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Pramono dalam amanatnya.
Porsi 16,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional menegaskan posisi Jakarta sebagai motor utama ekonomi Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari aktivitas bisnis, perdagangan, dan jasa keuangan yang berpusat di ibu kota.
Kinerja ini menjadi landasan bagi pemerintah provinsi untuk terus berinovasi dalam pelayanan publik dan infrastruktur. Stabilitas makroekonomi yang terjaga juga memberikan rasa aman bagi investor untuk terus menanamkan modalnya di Jakarta.
Target masuk 50 besar kota global terbaik pada 2030 bukanlah sekadar ambisi. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, Jakarta memiliki daya tawar lebih dalam menarik talenta global dan investasi asing langsung (FDI).
Pramono mengisyaratkan bahwa kerja nyata, bukan sekadar seremoni, adalah kunci mengisi kemerdekaan. Arah pembangunan ke depan akan difokuskan pada pemerataan kesejahteraan dan penciptaan ekosistem kota yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Perayaan tahun ini menjadi refleksi: kemerdekaan yang telah diraih 81 tahun lalu harus diterjemahkan menjadi kemajuan nyata yang bisa dirasakan seluruh warga Jakarta.