JAWA TENGAH — Gabungan Komite Tetap Perdagangan, Industri, dan Perbankan Thailand (JSCCIB) bersama Kementerian Keuangan, Bank of Thailand, Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC), serta Bank Dunia mengumumkan kesiapan penyelenggaraan konferensi kepemimpinan bertajuk "The Bangkok Business Summit 2026: Reinvent Thailand, Resilient ASEAN". Acara ini akan digelar di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC) dan dirancang sebagai ajang kolaborasi publik-swasta untuk merestrukturisasi perekonomian Thailand.
Ketua JSCCIB, Payong Srivanich, menegaskan bahwa tantangan Thailand saat ini bukan sekadar mengejar pertumbuhan, melainkan membangun pertumbuhan yang kompetitif di tengah perubahan global yang cepat. "Kami butuh platform untuk bergotong royong 'Reinvent Thailand' dengan menciptakan mesin ekonomi baru dan meningkatkan daya saing," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (18/8/2026).
Salah satu sorotan utama adalah pidato kunci Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, yang akan memaparkan "Thailand's Offer to the World". Pidato ini akan mendeklarasikan kesiapan Thailand sebagai hub investasi global dengan menggeser paradigma dari kompetisi berbasis biaya murah menuju penguatan kapabilitas, inovasi, dan infrastruktur digital.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan, Dr. Ekniti Nitithanprapas, dijadwalkan menyampaikan kebijakan berjudul "Unlocking the Next Growth Engines for Thailand & ASEAN". Kebijakan tersebut akan mengungkap langkah reformasi untuk membuka investasi swasta dan mendorong sektor-sektor ekonomi baru. Sementara itu, Gubernur Bank of Thailand, Vitai Ratanakorn, akan memaparkan strategi transisi dari ambisi menjadi aksi nyata dalam sesi "Thailand's New Horizons: From Ambition to Delivery".
Bank Dunia juga akan meluncurkan laporan terbaru bertajuk "Building Thailand's Future Today: The Investment and Growth Playbook" pada acara tersebut. Laporan ini memuat peta jalan bagi Thailand untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi melalui investasi dan reformasi yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, serta menyoroti industri potensial seperti manufaktur canggih, pariwisata berkelanjutan, layanan digital, dan ekonomi kreatif.
Konferensi akan terbagi dalam dua jalur diskusi utama. Jalur pertama membahas ketahanan infrastruktur, energi, dan keuangan digital yang dipimpin oleh Deputi Gubernur Bank of Thailand, Piti Disyatat. Diskusi ini akan menghadirkan pemimpin dari Kementerian Energi, PTT, Gulf Energy, Siam Cement, hingga Google LLC untuk membahas transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pembangunan infrastruktur digital publik yang inklusif.
Jalur kedua berfokus pada industri masa depan, agrifood, dan ekonomi yang berpusat pada manusia, dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri bidang Pendidikan Tinggi, Sains, Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Yodchanan Wongsawat. Sesi ini akan membahas posisi Thailand sebagai platform investasi regional untuk industri berteknologi tinggi, semikonduktor, dan AI. Panel diskusi juga akan membahas masa depan bisnis agrifood yang melampaui peran tradisional sebagai "Dapur Dunia" menjadi aset strategis untuk ketahanan pangan regional.
Sebagai penutup, para pemimpin dari tiga organisasi anggota JSCCIB akan merangkum proposal aksi konkret untuk meningkatkan daya saing dan membangun ekosistem investasi. Acara ini juga akan diakhiri dengan penandatanganan Letter of Intent untuk Kerja Sama Digital & AI Compact antara lembaga ekonomi Thailand dan Bank Dunia.
Selain itu, sesi makan siang yang diadakan oleh Thai Beverage Public Company Limited akan memaparkan penerapan Filosofi Ekonomi Kecukupan sebagai kerangka menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan dari tingkat komunitas hingga makroekonomi.