SEMARANG — Warga Kampung Rejosari, Meteseh, terpaksa mengandalkan pasokan air dari tangki BPBD untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan MCK. Sumber air Pamsimas yang selama ini menjadi andalan utama kini hanya menyisakan debit sedikit, tak lagi mampu melayani puluhan rumah di permukiman padat tersebut.
Staf Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Sugiarto, mengatakan pengiriman truk tangki dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari ketua RT setempat. Air sebanyak lima ribu liter didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
“Untuk hari ini kami mengirimkan bantuan sebanyak lima ribu liter. Kami perkirakan jumlah tersebut cukup untuk warga RT setempat yang terdiri dari 36 kepala keluarga,” kata Sugiarto.
Warga setempat, Saromah, menuturkan tanda-tanda kekeringan sudah mulai terasa sejak pekan terakhir Juli. Air yang keluar dari jaringan Pamsimas hanya berupa tetesan kecil, tidak seperti biasanya. Kondisi ini memaksa warga mengantre untuk mendapatkan air dari sumber milik pondok pesantren yang berlokasi tak jauh dari kampung.
“Kekurangan air bersih ini sudah terjadi sekitar akhir Juli. Air Pamsimas sekarang hanya sedikit sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujar Saromah.
Bantuan dari BPBD pun menjadi penolong di tengah kondisi darurat. Saromah bersyukur karena air bersih yang tiba kemarin diperkirakan bisa dipakai hingga tiga hari ke depan untuk keperluan memasak dan sanitasi.
BPBD Kota Semarang memastikan layanan droping air tidak hanya untuk wilayah Meteseh. Warga di kelurahan lain yang mengalami kondisi serupa dapat mengajukan permintaan melalui ketua RT masing-masing.
Permohonan juga bisa disampaikan langsung melalui Call Center BPBD Kota Semarang di nomor 112. Petugas akan memverifikasi lokasi dan jumlah warga terdampak sebelum menerjunkan armada tangki.
Ketua RT setempat, Shohibul Adib, mengapresiasi respons cepat pemerintah kota. Bantuan ini dinilai cukup meringankan beban warganya yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih di tengah musim kemarau.
“Kami berharap bantuan ini bisa berkelanjutan, karena sumber air di kampung kami memang sedang dalam kondisi kritis,” kata Shohibul.