Pemerintah Kabupaten Batang merespons positif langkah beberapa SMK yang menggandeng TNI untuk melatih kedisiplinan siswa. Bupati Faiz Kurniawan menilai penguatan karakter ini krusial agar lulusan siap bersaing dan bertahan di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), di tengah tingginya angka pergantian pekerja muda di Jawa Tengah.
Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret menjembatani kesenjangan antara kompetensi lulusan dan ekspektasi dunia usaha. Bupati menegaskan bahwa kehadiran KITB membutuhkan pasokan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai teknis, tetapi juga memiliki mental baja.
BATANG — Kerjasama antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan TNI di Kabupaten Batang memperoleh dukungan penuh dari pemerintah daerah. Bupati Faiz Kurniawan menyebut program pelatihan kedisiplinan ini menjadi jawaban atas kebutuhan industri di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang menuntut tenaga kerja terampil sekaligus tahan banting.
Ia menyayangkan banyaknya lulusan yang memutuskan keluar sebelum masa kontrak berakhir. Masalah etos kerja, daya juang yang rendah, dan lemahnya kedisiplinan disebut menjadi pemicu utama tingginya angka tersebut.
Kekhawatiran mengenai daya tahan pekerja muda bukan tanpa alasan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, menyampaikan fenomena bongkar-pasang pekerja atau turnover lulusan SMK di provinsi ini menyentuh angka 4 hingga 10 persen.
“Ngopeni SMK ini dengan tujuan bagaimana anak-anak SMK itu memiliki karakter yang unggul. Selain kompetensi yang unggul, juga karakter yang unggul,” kata Sadimin dalam forum tersebut.
Sadimin menekankan pentingnya latihan fisik dan mental sejak dini agar siswa terbiasa dengan ritme kerja industri. Menurutnya, tuntutan di lapangan kerja sangat berbeda dengan suasana sekolah, terutama dalam hal ketahanan tubuh.
“Kalau bekerja ya harus tahan lama. Kalau tidak kuat kan repot, maka cara fisiknya harus kita kuatkan,” tegasnya. Berdiri itu delapan jam ya biasanya, harus kuat itu.
Ia menambahkan, kurikulum dan fasilitas praktik di SMK juga harus terus diperbarui. Bupati Faiz Kurniawan sependapat, penyesuaian kurikulum hingga pembaruan alat praktik menjadi kunci agar siswa tidak hanya lulus, tetapi langsung terserap optimal oleh industri.
“Ini akan mentrigger link and match antara kebutuhan industri dengan kurikulum SMK. Sehingga kita berharap ke depan lulusan SMK ini benar-benar langsung bisa terabsorbsi,” ujar dia.
“Banyak ke depan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin akan hilang, pekerjaan-pekerjaan baru pun juga pasti akan muncul. Nah, saya kira ini perlu. Dengan forum semacam ini akan ada komunikasi antara dunia pendidikan dengan dunia industri,” jelasnya.
Ia menilai perubahan teknologi yang cepat akan mengubah peta kebutuhan tenaga kerja secara signifikan. Menanggapi inisiatif ini, Wakil Ketua III DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, memacu agar ruang dialog antara sekolah dan industri semakin masif digelar.
Forum Ngopeni SMK yang digelar di KITB pada Kamis, 20 Agustus 2026 ini menjadi ajang sinkronisasi kebutuhan industri dengan kurikulum pendidikan. Kolaborasi dengan TNI diharapkan menjadi model pembinaan karakter yang bisa direplikasi oleh sekolah lain di Jawa Tengah.