SEMARANG — Masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah belakangan masih merasakan hujan turun di tengah kondisi cuaca yang panas. Fenomena ini dijelaskan BMKG sebagai hal yang lazim terjadi selama periode musim kemarau, bukan pertanda peralihan musim.
Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita Eka Wati, menyebut hujan tetap bisa terjadi ketika kondisi atmosfer mendukung. Namun, karakteristiknya jauh berbeda dengan hujan pada musim penghujan.
"Musim kemarau itu bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Jadi memang musim kemarau itu tetap bisa terjadi hujan, hanya saja durasi dan juga curah hujannya menurun," ujar Rany saat ditemui di kantornya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menurut Rany, hujan yang turun saat kemarau umumnya berdurasi singkat. Intensitasnya pun cenderung lebih rendah dibandingkan hujan di musim penghujan, meski terkadang sempat turun deras secara tiba-tiba.
"Ciri-ciri hujan yang terjadi di musim kemarau itu biasanya hujannya memang singkat. Terus juga intensitasnya sangat kecil dibanding saat musim hujan dan juga kadang-kadang kalaupun terjadi memang tiba-tiba deras," jelasnya.
Rany menambahkan, hujan yang terjadi selama musim kemarau bersifat lokal. Artinya, tidak semua wilayah merasakan hujan pada waktu yang bersamaan.
Wilayah pegunungan dan dataran tinggi menjadi daerah yang lebih sering mengalami hujan. Kondisi topografi disebut memengaruhi proses pembentukan awan yang lebih cepat.
"Karena dia berbukit, gunung, jadi proses pembentukan awannya juga cukup cepat dan mungkin proses pemanasannya atau konvektifnya cukup besar dan uap airnya naik juga lumayan," tuturnya.
Secara umum, Jawa Tengah masih berada di puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Namun, prediksi BMKG menunjukkan sejumlah wilayah baru akan mengalami puncak kemarau pada September mendatang.
"Di bulan Agustus ini secara umum wilayah Jawa Tengah itu masuk puncak musim kemaraunya. Kemudian September itu masih ada beberapa wilayah seperti Karimunjawa itu baru puncak musim kemarau di September menurut prediksinya," kata Rany.
Sementara itu, masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan diperkirakan mulai terjadi pada September dasarian kedua atau ketiga. Rany menegaskan, hujan yang turun belakangan ini belum bisa dijadikan penanda bahwa musim penghujan telah tiba.
Adapun suhu di Kota Semarang berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang berada di kisaran 33–34 derajat Celsius.