JAWA TENGAH — BPI Danantara Indonesia membeberkan alasan rendahnya adopsi motor listrik di kalangan pengemudi ojek online (ojol). Dalam diskusi bertajuk Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry di Jakarta Pusat, Kamis (20/8), Managing Director Industrialization Danantara, Ardy Muawin, menyebut persoalan teknis dan finansial sebagai penghambat terbesar.
Ardy menjelaskan, isu teknis yang melekat pada motor listrik generasi awal—seperti tenaga yang kurang responsif saat melintasi tanjakan dan daya baterai yang cepat habis—masih membekas di benak pengemudi. Meski demikian, ia menilai produsen mulai mampu mengatasi masalah tersebut pada produk-produk terbaru.
Hambatan yang lebih pelik justru datang dari sektor pembiayaan. Laporan dari pihak Grab menunjukkan banyak mitra pengemudi gagal mendapatkan fasilitas kredit karena terganjal verifikasi BI Checking atau SLIK OJK.
Padahal, pengemudi dengan performa bintang lima yang aktif bekerja setiap hari dinilai memiliki risiko kredit sangat rendah. Danantara menilai risiko ini sebenarnya bisa ditekan melalui skema cicilan harian serta sistem penonaktifan kendaraan otomatis jika pembayaran menunggak.
"Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy.
Jurang pemisah suku bunga juga menjadi sorotan. Kredit sepeda motor kerap dibebani bunga 30 hingga 40 persen, berbanding terbalik dengan kredit mobil yang berada di kisaran 12 persen. Beban konsumen kian bertambah karena diler cenderung memprioritaskan skema kredit demi mengejar bonus penjualan.
Untuk merespons kondisi yang memberatkan ini, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menyusun ulang skema pembiayaan. Langkah ini diharapkan bisa menekan biaya kredit dan membuat daya beli motor listrik lebih terjangkau bagi masyarakat.
Padahal, dari sisi operasional, motor listrik dinilai jauh lebih ekonomis untuk pekerja transportasi daring. Riset internal Danantara menunjukkan penggunaan motor listrik mampu memangkas biaya harian pengemudi sebesar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu dibanding kendaraan berbahan bakar bensin.
Jika diakumulasikan selama 25 hari kerja, penghematan tersebut mencapai Rp500 ribu per bulan. "That's a lot of money buat teman-teman itu," ungkap Ardy.