JAWA TENGAH — Pabrikan otomotif global berlomba mengintegrasikan robot humanoid ke lini produksi, namun hasil uji coba tahap awal menunjukkan teknologi ini belum siap menggantikan manusia. Wakil Presiden Logistik BMW, Ulrich Wieland, secara terbuka mengakui bahwa robot yang diuji di pabrik Spartanburg masih lebih lambat dibandingkan pekerja manusia dalam menyelesaikan tugas memindahkan komponen dari kontainer ke troli.
Robot besutan Figure AI yang diuji BMW memang sudah menunjukkan kapabilitas teknis yang impresif. Robot ini mampu berjalan secara otonom, mengambil komponen dengan presisi, hingga menarik troli berat di area logistik pabrik. Namun dalam praktiknya, kecepatan eksekusi tugas masih di bawah standar produktivitas manusia.
Wieland menambahkan bahwa meski performa saat ini belum memuaskan, kurva perkembangan teknologi robot berlangsung sangat cepat. Ini menjadi sinyal bahwa celah kecepatan antara robot dan manusia diprediksi akan semakin menyempit dalam beberapa tahun ke depan.
BMW bukan satu-satunya pemain yang serius menggarap teknologi ini. Mercedes-Benz tengah menguji robot humanoid buatan Apptronik untuk tugas menyortir dan menangani komponen. Hyundai, melalui anak perusahaannya Boston Dynamics, berencana memanfaatkan robot untuk menata komponen yang akan digunakan pekerja manusia di pabrik.
Tesla bahkan memiliki ambisi lebih besar dengan robot Optimus. Tidak hanya ditargetkan bekerja di pabrik mobil, Optimus juga diproyeksikan menjadi lini bisnis baru yang menguntungkan bagi perusahaan Elon Musk tersebut.
Di balik euforia teknologi, sejumlah ahli mempertanyakan rasionalitas penggunaan robot humanoid. Pekerjaan sederhana di pabrik seperti memindahkan atau menyortir komponen sebenarnya bisa dilakukan robot konvensional dengan biaya yang jauh lebih murah. Bentuk humanoid dengan dua kaki dinilai tidak relevan untuk lingkungan pabrik yang didominasi permukaan datar.
General Motors (GM) mengambil pendekatan berbeda dengan mengembangkan robot kolaboratif yang hanya memiliki tangan dan lengan, tanpa kaki. Keputusan ini didasari pertimbangan bahwa kemampuan berjalan tidak dibutuhkan di dalam pabrik, sehingga desain robot bisa dibuat lebih sederhana dan hemat biaya.
Kehadiran robot di pabrik otomotif menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja. Produsen berargumen bahwa otomatisasi justru bisa mengisi pekerjaan yang sulit mendapatkan tenaga manusia, sekaligus membuka posisi baru untuk mengoperasikan dan merawat mesin. Namun di sisi lain, pekerja khawatir otomatisasi akan mengurangi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
Untuk saat ini, revolusi robot humanoid di pabrik otomotif tampaknya masih membutuhkan waktu panjang. Dalam urusan kecepatan kerja, manusia masih unggul. Keputusan adopsi teknologi ini pada akhirnya akan bergantung pada keseimbangan antara biaya investasi, peningkatan efisiensi, dan dampak sosial terhadap tenaga kerja. Produsen otomotif perlu menimbang matang apakah investasi besar untuk robot humanoid sepadan dengan peningkatan produktivitas yang belum terbukti signifikan.