JAWA TENGAH — Momentum tidak lagi sekadar cara berpindah tempat. Dalam demo tertutup Guild Wars 3, pemain Warrior terlihat meluncur dari tebing menggunakan glider, lalu langsung bertransisi menjadi drop attack saat musuh berada di bawah. Aksi tersebut memanfaatkan sistem momentum yang dibangun ArenaNet sejak awal pengembangan, dan menjadi fondasi dari seluruh gerakan di game ini.
Johanson mengungkapkan bahwa timnya ingin menghindari pola umum MMO yang sering membuat pemain berhenti sebelum melompat, berhenti sebelum bergliding, lalu berhenti lagi sebelum menyerang. "Everything feels very clunky," ujarnya soal kebanyakan game sejenis. Karena itu, Guild Wars 3 dirancang agar kecepatan gerakan memiliki konsekuensi langsung terhadap efektivitas serangan.
Menurut Stocker, penggabungan movement dan combat berkembang sangat natural. "It ended up being a really natural development to bring the two systems together," jelasnya. Tim internal pun langsung terpukau ketika kombinasi wall run, lompatan, dan ground slam berhasil dieksekusi dalam uji coba pertama.
Semakin cepat pemain bergerak, semakin besar momentum yang dikumpulkan. Serangan udara dari ketinggian menambah damage sekaligus memperluas radius ledakan. Pemain juga bisa menendang musuh ke arah dinding untuk damage tambahan, atau mendorongnya jatuh dari tebing. Ukuran musuh ikut diperhitungkan—semakin besar lawan, semakin besar momentum yang dibutuhkan untuk mendorongnya.
Kolaborasi antarpemain juga dirancang untuk mengeksploitasi momentum. Dalam demo, Johanson memanfaatkan perisai yang dipegang Stocker sebagai papan loncatan untuk melompat ke belakang musuh dan menyerang titik lemahnya. Class Ranger disebut memiliki kemampuan yang lebih unik: menciptakan vortex yang mengangkat seluruh rekan setim ke udara sehingga mereka bisa melancarkan serangan aerial dengan nyaman.
Stocker menambahkan bahwa build dan pemilihan skill tetap menjadi elemen penting. Saat timnya dihadapkan pada laba-laba besar yang menghasilkan jaring penghambat, kemampuan menambahkan fire damage ke serangan sendiri dan sekutu terbukti efektif. Api membakar jaring dan membuat laba-laba lebih cepat tumbang.
Guild Wars 3 mengambil latar Orr pada masa yang jauh berbeda dari Guild Wars 2. Seribu tahun sebelum era game pertama, Orr masih berupa hutan hijau yang dipenuhi roh alam. Periode ini terjadi setelah Grenth menggantikan Dhuum sebagai dewa kematian dan sebelum para dewa meninggalkan dunia. Para pemain juga akan merasakan awal mula berdirinya guild-guild pertama, jauh sebelum Guild War pertama pecah.
Roh menjadi bagian penting mekanisme baru. Pemain bisa bersahabat dengan roh untuk mendapatkan kemampuan seperti penerangan di tempat gelap, atau nanti digunakan sebagai mount darat dan terbang. Musuh pun bisa memanfaatkan roh—dalam demo terlihat musuh menyimpan roh dalam ransel untuk memicu serangan api. Pemain dapat memanfaatkan momentum untuk memutar posisi, menghancurkan ransel, dan membebaskan roh untuk melumpuhkan musuh.
Masih banyak yang belum diungkap dari Guild Wars 3, khususnya sistem PvP yang selalu menjadi tulang punggung seri ini. ArenaNet sendiri baru menjadwalkan beta pada musim gugur 2027. Sementara itu, pemain bisa terus memantau perkembangan terkait roh, dungeon, mounts, hingga sistem skill yang akan menentukan seberapa jauh momentum bisa dieksploitasi.
Yang jelas, Guild Wars 3 tidak berusaha mengulang formula yang sudah ada. Dengan menjadikan momentum sebagai inti gerakan dan serangan, ArenaNet coba membedakan diri di tengah derasnya MMO yang masih mengandalkan standar rotasi skill dan positioning statis. Untuk komunitas MMO PC yang bosan dengan game sejenis, ini sinyal awal yang menjanjikan.