JAWA TENGAH — Jakarta — Pekan ini menjadi rangkaian panjang bencana alam yang melanda sejumlah kawasan, dari Asia Selatan hingga domestik. Di Nepal, banjir bandang yang menerjang wilayah pegunungan dilaporkan menelan korban jiwa yang jumlahnya terus meningkat dari hari ke hari.
Badan penanggulangan bencana setempat mencatat angka korban yang terus bertambah seiring proses evakuasi yang berlangsung. Tim penyelamat masih berupaya menjangkau sejumlah desa terisolasi yang terputus aksesnya akibat longsor dan jembatan yang rusak diterjang air.
Material lumpur dan kayu yang terbawa arus merendam permukiman di lembah-lembah sempit, memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Kondisi ini memperlambat distribusi bantuan logistik, terutama makanan dan air bersih, ke lokasi terdampak.
Di dalam negeri, kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian. Sejumlah titik api terpantau di wilayah Kalimantan, dengan asap pekat yang mulai menyelimuti beberapa kabupaten. Petugas gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk melakukan pemadaman, baik melalui jalur udara maupun darat.
Pemadaman di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api kerap membakar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat upaya pendinginan berlangsung lambat dan membutuhkan volume air yang besar. Warga yang tinggal di dekat lokasi kebakaran mulai mengeluhkan gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Pemerintah daerah setempat telah menetapkan status siaga darurat untuk mempermudah mobilisasi sumber daya. Langkah ini memungkinkan dana tak terduga digunakan untuk operasional pemadaman serta penyediaan masker bagi warga terdampak.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam keterangan persnya, menegaskan bahwa patroli terpadu akan diperketat untuk mencegah meluasnya kebakaran. Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara sengaja.
“Kami tidak akan mentoleransi praktik pembakaran yang merugikan masyarakat luas dan merusak lingkungan. Penegakan hukum akan dijalankan tanpa pandang bulu,” ujarnya di Jakarta, Jumat (4/9).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk memastikan rantai komando penanganan bencana berjalan efektif. Hal ini mencakup kesiapan personel, peralatan pemadam, serta dukungan logistik bagi pengungsi.
Cuaca kering yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan membuat kewaspadaan terhadap karhutla harus terus ditingkatkan. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat potensi sanksi hukum yang berat serta dampak lingkungan yang ditimbulkan.