JAWA TENGAH — YOGYAKARTA — Bencana yang meluluhlantakkan permukiman di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli itu berawal dari runtuhnya massa es dan batuan di dekat perbatasan Nepal-Tibet. Material lumpur dan sedimen yang terbawa aliran sungai menghancurkan jalan, jembatan, hingga fasilitas pembangkit listrik tenaga air di wilayah hilir.
Rahmawati Husein, pakar tata kelola bencana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mengatakan peristiwa ini bukan sekadar tragedi regional. Ia menegaskan longsoran es tersebut menjadi alarm bagi seluruh penduduk bumi, termasuk Indonesia yang rentan terhadap kenaikan permukaan air laut.
“Ini bagian dari bukti perubahan iklim yang nyata. Banyak orang mungkin masih tidak percaya perubahan iklim, tetapi longsoran es dan batu itu sebetulnya menjadi bukti dari pemanasan global yang memaksa es mencair,” kata Rahmawati kepada Humas UMY, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, risiko iklim bersifat lintas batas dan tidak berhenti pada batas administratif suatu negara. “Dari sisi tata kelola, penyelesaiannya tidak hanya menjadi urusan satu negara. Ini sudah menjadi urusan dunia dan menjadi alarm bagi penduduk bumi,” tandasnya.
Data ilmiah memperkuat kekhawatiran tersebut. Laporan International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) pada 2026 mencatat laju kehilangan es gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000. Sepanjang 1990–2020, luas gletser di kawasan itu menyusut sekitar 12 persen, sementara cadangan esnya berkurang hingga 9 persen.
Perubahan kriosfer yang cepat ini meningkatkan risiko bencana seperti banjir akibat jebolnya danau glasial, longsor, aliran material, hingga longsoran salju. Dampaknya menjalar ke permukiman, infrastruktur, ketahanan air, energi, dan pangan bagi hampir dua miliar orang yang hidup di wilayah hilir sistem sungai Himalaya.
Kendati demikian, para ahli masih mempelajari keterkaitan langsung antara satu peristiwa keruntuhan gletser dengan perubahan iklim. Suhu tinggi dan pencairan cepat disebut berkontribusi terhadap ketidakstabilan gletser, namun analisis lebih lanjut tetap diperlukan.
Rahmawati mengingatkan bahwa pencairan es di pegunungan berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut secara global, bersama hilangnya massa lapisan es dan pemuaian termal air laut. Akumulasi kehilangan massa es daratan dalam jangka panjang menjadi ancaman serius bagi negara kepulauan.
“Yang paling berbahaya kalau es banyak mencair adalah permukaan air laut ikut naik. Kalau naik, Indonesia harus waspada karena pulau-pulau kecil bisa terdampak,” ujarnya. “Jadi, kita tidak bisa hanya melihat bencana Nepal sebagai kejadian di satu wilayah, tetapi sebagai peringatan bagi negara lain.”
Bagi Indonesia, risiko perubahan iklim memang muncul dalam bentuk berbeda, mulai dari pola cuaca yang kian ekstrem, bencana hidrometeorologi, hingga gangguan kehidupan masyarakat pesisir. Bencana di Nepal menjadi pengingat bahwa penanganan krisis iklim menuntut respons kolektif yang melampaui batas negara.