SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan kecepatan dan ketepatan respons menjadi kunci utama dalam penanganan bencana di provinsi yang ia sebut sebagai "minimarket bencana". Instruksi tersebut ditujukan kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk relawan tanggap bencana dan tim reaksi cepat di tingkat kabupaten/kota.
"Jawa Tengah merupakan minimarket bencana, sehingga membutuhkan respons cepat dari seluruh stakeholder terkait, termasuk para relawan tanggap bencana dan tim reaksi cepat (TRC)," katanya di Semarang, Senin.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng per 30 Agustus 2026, total sudah ada 615 kejadian kebakaran. Angka itu terdiri atas 282 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta 333 kejadian kebakaran gedung dan pemukiman.
Total kerusakan akibat kebakaran gedung dan pemukiman ditaksir mencapai Rp38,5 miliar. Luthfi meminta para kepala daerah tidak lengah, terutama terhadap risiko kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA).
Contoh kasus yang ia sorot adalah kebakaran di TPA Putri Cempo, Kota Surakarta. Gubernur meminta seluruh kepala daerah rutin mengecek dan melakukan mitigasi di wilayah masing-masing.
"Surat edaran sudah dibuat oleh Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah dan ini harus menjadi perhatian kita bersama," ujarnya.
Untuk bencana kekeringan, hampir seluruh wilayah Jateng mengalaminya dengan tingkat keparahan berbeda. Luthfi menyebut para kepala daerah telah melakukan pemetaan, mulai dari lahan pertanian hingga titik kekurangan air bersih.
"Semua sudah kita petakan agar dampak kekeringan tidak melanda terlalu dalam di daerah kita," katanya didampingi Kalakhar BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan.
Sebanyak 8,5 juta liter air bersih telah didistribusikan ke daerah terdampak. Koordinasi lintas sektor dengan kepolisian dan TNI juga terus dilakukan untuk mempercepat penyaluran bantuan.
Pelatihan peningkatan kapasitas personel TRC melibatkan ratusan personel dari perwakilan seluruh daerah di Jateng. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan membagikan ilmu kepada personel lain di daerahnya masing-masing.
"Jadi, latihan itu perlu, untuk meningkatkan profesionalitas dan 'teamwork' (kerja tim)," kata Luthfi.
Ia menambahkan, keberadaan TRC yang terlatih di setiap daerah menjadi garda terdepan yang menentukan cepat atau lambatnya penanganan bencana. Semakin sigap personel di lapangan, semakin kecil dampak yang dirasakan warga.