MBG Ibu Hamil dan Balita: KPAI Minta Pengawasan Sepanjang Rantai

Penulis: Irfan Hakim  •  Minggu, 27 September 2026 | 13:54:31 WIB
KPAI meminta pengawasan Program Makan Bergizi Gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dilakukan sepanjang rantai penyelenggaraan.

JAWA TENGAH — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta penguatan pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) di sepanjang rantai penyelenggaraan. Pengawasan tidak boleh berhenti saat makanan matang dan siap dibagikan, tetapi harus mencakup perencanaan menu hingga makanan benar-benar dikonsumsi penerima manfaat. Simak penjelasan lengkap soal kebutuhan gizi tiap kelompok dan alasan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan membuat program ini tidak bisa dikelola sembarangan.

Kelompok 3B memiliki kebutuhan gizi yang berbeda satu sama lain. Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tidak bisa diperlakukan dengan standar makanan yang sama seperti perempuan dewasa pada umumnya. Perbedaan ini yang membuat KPAI menilai pengawasan MBG untuk kelompok 3B harus lebih ketat dibanding penerima manfaat lain.

Pengawasan Tidak Cukup di Dapur

KPAI menegaskan quality control dalam program MBG tidak boleh hanya berarti makanan sudah dimasak lalu dibagikan. Pengawasan perlu dilakukan sepanjang rantai penyelenggaraan, mulai dari perencanaan menu, pemilihan bahan pangan, pengolahan, higiene sanitasi, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi penerima manfaat.

"Quality control tidak boleh hanya berarti makanan sudah dimasak dan kemudian dibagikan. Kita harus memastikan makanan itu aman, kualitasnya terjaga, sesuai kebutuhan penerima manfaat dan dikonsumsi dalam kondisi yang tepat," kata Jasra, Minggu (27/9/2026).

Kebutuhan Gizi Ibu Hamil dan Menyusui Berbeda

Pada ibu hamil, kebutuhan energi, protein, serta sejumlah zat gizi mikro seperti zat besi, asam folat, kalsium, iodium, dan zink perlu diperhatikan. Asupan garam, cairan, dan status berat badan juga perlu dipantau sesuai kondisi masing-masing ibu.

Sementara pada ibu menyusui, kebutuhan energi dan cairan meningkat untuk mendukung produksi ASI. Keragaman makanan serta sumber kalsium dan zat besi menjadi perhatian utama.

"Bumil dan busui mempunyai kebutuhan gizi tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya. Karena itu pemberian MBG harus memperhatikan kebutuhan biologis masing-masing kelompok," tegas tim Pokja KPAI.

Balita Butuh Penyesuaian Tekstur dan Porsi

Untuk balita, KPAI menekankan perlunya penyesuaian makanan berdasarkan usia dan tahapan tumbuh kembang. Penyesuaian tidak hanya menyangkut porsi, tetapi juga tekstur, bentuk, kepadatan zat gizi, dan kemampuan anak untuk makan.

Artinya, menu yang sama bisa jadi tidak cocok untuk semua balita. Anak yang lebih kecil mungkin belum mampu mengunyah tekstur tertentu, sementara anak yang lebih besar butuh asupan gizi lebih padat.

Edukasi Keluarga dan Kader Jadi Kunci

KPAI mendorong penguatan edukasi bagi keluarga dan kader yang mendampingi penerima manfaat. Keluarga dan pendamping perlu memahami tujuan pemberian makanan serta cara memastikan makanan dikonsumsi secara tepat.

Selain itu, pemantauan status gizi dan tumbuh kembang juga didorong dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan MBG 3B. Tanpa pemantauan ini, sulit mengetahui apakah program benar-benar berdampak pada kondisi gizi anak dan ibu.

Mengapa 1.000 Hari Pertama Kehidupan Sangat Krusial

Jasra menempatkan pengawasan sebagai bagian penting dari pelaksanaan program karena kelompok 3B berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini berjalan terus dan tidak bisa diulang.

"Untuk kelompok 3B, kita bicara tentang periode 1.000 hari pertama kehidupan. Ini adalah masa yang sangat krusial dan tidak bisa diulang. Waktu terus berjalan. Karena itu setiap pemberian makanan harus dikelola dengan baik, karena kesempatan untuk memperbaiki kesalahan pada periode ini tidak sama dengan memperbaiki persoalan di kemudian hari," tegasnya.

Dukungan dengan Catatan Kualitas dan Keamanan

KPAI menyatakan dukungan terhadap tujuan pemenuhan gizi melalui MBG, sekaligus mendorong aspek keamanan, kualitas, dan ketepatan sasaran dalam pelaksanaannya.

"Ini bukan soal mendukung atau tidak mendukung MBG. Kita mendukung pemenuhan gizi. Tetapi justru karena kita ingin program ini berhasil, maka kualitas, keamanan dan ketepatan sasaran harus dijaga," katanya.

Bagi ibu yang menerima manfaat MBG, tidak ada salahnya menanyakan asal bahan, cara pengolahan, dan kesesuaian porsi dengan usia anak. Periode 1.000 hari pertama berjalan cepat, dan pengawasan yang teliti dari semua pihak membantu memastikan setiap suapan benar-benar mendukung tumbuh kembang si kecil.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: suara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top