Lomba Foto Pohon Tua Merti Kayon Blora Kumpulkan Puluhan Karya, Peserta Ditantang Gali Sejarah Kampung

Penulis: Gunawan Susilo  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 06:16:01 WIB
Peserta lomba foto Merti Kayon menelusuri riwayat pohon tua di kampung-kampung Blora.

BLORA — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Blora mencatat puluhan karya foto telah masuk dalam lomba Merti Kayon. Jumlah peserta masih berpeluang bertambah karena masa pengiriman karya baru ditutup pada 10 Oktober 2026.

Penggagas Merti Kayon, Dalhar Muhammadun, menyebut perkembangan itu sebagai tanda positif. Menurut dia, antusiasme peserta memperlihatkan perhatian warga terhadap keberadaan pohon-pohon tua mulai tumbuh.

"Dari update yang kami terima, sudah masuk puluhan. Semoga ini menjadi tanda yang baik terhadap minat peserta mengikuti ajang ini," ujar pria yang akrab disapa Kak Madun tersebut.

Bukan Sekadar Lomba Membidik Kamera

Merti Kayon menuntut peserta bekerja lebih dari sekadar urusan teknis fotografi. Setiap peserta wajib mengungkap cerita, sejarah, usia, hingga ingatan masyarakat yang melekat pada pohon pilihannya.

Pohon yang menarik secara visual belum tentu mudah ditelusuri riwayatnya. Sejumlah peserta mengaku kesulitan menemukan warga atau narasumber yang mengetahui asal-usul pohon tersebut.

Tidak sedikit dari mereka harus berkeliling kampung untuk mencari orang yang masih menyimpan cerita soal pohon tua yang hendak difoto.

Kamera Jadi Pintu Masuk Penelusuran Sejarah

Madun menilai kesulitan itu justru menjadi bagian penting dari kegiatan. Peserta diajak turun ke lapangan, bertanya kepada warga, lalu menyusun kembali potongan cerita yang selama ini hanya hidup dari mulut ke mulut.

"Justru di situlah dinamika yang bisa menjadi motivasi tersendiri bagi peserta. Mereka tidak hanya memotret pohonnya, tetapi juga berusaha mencari cerita di balik keberadaan pohon itu," terangnya.

Dalam konteks ini, pohon tua bukan sekadar batang besar berusia puluhan atau ratusan tahun. Di baliknya bisa tersimpan jejak sejarah kampung, kisah tokoh masyarakat, penanda suatu peristiwa, hingga memori kolektif antargenerasi.

Mendokumentasikan Cerita Sebelum Hilang

Merti Kayon diharapkan tidak berhenti sebagai ajang mencari foto terbaik. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mendokumentasikan pohon-pohon tua dan cerita masyarakat yang menyertainya.

Upaya itu dinilai penting agar jejak sejarah tidak hilang bersama waktu. Banyak pohon tua di kampung-kampung Blora yang usianya tidak pernah tercatat resmi dan hanya diketahui dari penuturan warga.

Hingga batas akhir pengiriman pada 10 Oktober 2026, peserta masih memiliki kesempatan memperkuat foto sekaligus melengkapi narasi dengan penelusuran sejarah yang lebih mendalam.

Yang dicari dalam Merti Kayon bukan semata-mata pohon yang tua, melainkan cerita yang masih hidup di balik ketuaannya.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: korandiva.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top