WONOGIRI — Program gentengisasi Jawa Tengah tengah dimatangkan dan ditargetkan mulai berjalan pada akhir November 2026. Kebutuhan genteng untuk tahap awal diperkirakan mencapai 1,1 juta keping, menjadikan program ini sebagai pasar besar bagi industri genteng tanah liat lokal.
Gentengisasi merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Pemprov Jateng menyiapkan penguatan dari sisi mutu produk agar genteng lokal mampu memenuhi standar yang dibutuhkan proyek perumahan pemerintah.
Identifikasi Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Jawa III menemukan 21 produsen atau unit usaha genteng tanah liat yang tersebar di delapan kabupaten. Kedelapan daerah itu adalah Banyumas, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Jepara, Grobogan, Sukoharjo, dan Kabupaten Magelang.
Para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) didorong mengikuti pengujian mutu, pendampingan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta peningkatan kapasitas produksi. Untuk 21 IKM tersebut, kebutuhan biaya pengujian mutu mencapai Rp20,58 juta, sedangkan sertifikasi SNI diperkirakan membutuhkan Rp220,5 juta.
Total kebutuhan pembiayaan mencapai Rp241,08 juta. Bank di Jateng telah menyatakan dukungan terhadap pembiayaan tersebut.
Potensi pasar genteng lokal jauh lebih besar dibanding kebutuhan awal program gentengisasi. Data Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2025 mencatat, sebanyak 3.257 dari 7.532 unit rumah menggunakan genteng sebagai penutup atap.
Sementara untuk Program Bedah Rumah 2026, kebutuhan genteng diperkirakan mencapai sekitar 4,7 juta keping. Angka itu menjadikan program perumahan pemerintah sebagai pasar signifikan bagi industri genteng tanah liat di Jawa Tengah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, menyebut kebutuhan genteng dari berbagai program pemerintah dapat menciptakan efek ekonomi berantai.
"Kalau potensi ekonomi, pasti ini akan memberikan multiplier effect. Mulai dari UKM-nya sendiri, kemudian angkutan, hingga toko-tokonya, semua bergerak," katanya.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, mengatakan program gentengisasi juga akan dikaitkan dengan Program Tiga Juta Rumah. Pada tahap awal, genteng produksi lokal digunakan dalam proyek bedah rumah pemerintah.
Selanjutnya, pemprov membuka peluang agar penggunaan genteng tersebut meluas ke proyek perumahan komersial. Langkah itu ditempuh agar pasar genteng Jateng tidak hanya bergantung pada proyek pemerintah.
"Kami akan mencoba, barangkali ada pengembang atau developer yang kita dorong untuk ikut juga mendukung program gentengisasi ini, dengan memanfaatkan genteng pada proyek-proyek perumahan mereka," ujarnya.
Dengan kebutuhan awal 1,1 juta keping dan proyeksi sekitar 4,7 juta keping untuk Program Bedah Rumah 2026, gentengisasi membuka ruang bagi industri genteng tanah liat Jateng untuk bergerak dari tingkat produksi hingga distribusi.