SEMARANG — Kebutuhan genteng untuk program Gentengisasi Jawa Tengah tahap awal mencapai 1,1 juta keping. Jumlah itu membuat peran perajin lokal menjadi krusial sebagai penyangga pasokan.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menilai program yang menjadi bagian Gerakan Indonesia ASRI itu semestinya tidak sekadar mengejar target pemasangan. Menurut dia, ada peluang ekonomi yang bisa ditangkap perajin di daerah.
"Program ini harus bisa menjadi peluang bagi industri genteng lokal untuk berkembang. Perajin perlu mendapat kesempatan memenuhi kebutuhan program, tentu dengan tetap memperhatikan standar kualitas dan ketentuan yang berlaku," kata politisi Partai Gerindra tersebut.
Pemprov Jateng tidak bergerak dari nol. Sebanyak 21 IKM genteng lokal telah disiapkan untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia sebagai syarat memasok program.
Puluhan IKM itu tersebar di Banyumas, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Jepara, Grobogan, Sukoharjo, dan Magelang. Sebaran ini menunjukkan sentra genteng di Jateng cukup banyak, meski belum semuanya tersertifikasi.
Untuk pengujian mutu dan sertifikasi SNI, Pemprov Jateng mengalokasikan anggaran Rp241,08 juta. Anggaran itu dipakai memastikan genteng yang dipasok memenuhi standar sebelum masuk proyek.
Genteng yang dipakai program pemerintah wajib lolos uji mutu. Tanpa sertifikat SNI, perajin lokal berisiko tersisih dari rantai pasok meski kapasitas produksinya memadai.
Heri menyoroti hal itu sebagai titik kritis. Kesempatan bagi IKM hanya bermakna jika perajin benar-benar dibantu menembus persyaratan teknis, bukan sekadar diberi ruang secara formal.
Pemprov Jateng menyiapkan pendampingan pengujian bagi IKM yang belum tersertifikasi. Langkah ini menentukan apakah target 1,1 juta keping bisa dipenuhi dari produksi dalam daerah.
Program Gentengisasi rencananya diluncurkan di Jawa Tengah pada akhir November 2026. Sejumlah persiapan masih berjalan menjelang tanggal tersebut.
Bagi perajin, tenggat itu menjadi ujian kesiapan produksi. Kebutuhan 1,1 juta keping pada tahap awal menuntut kapasitas pasokan yang stabil dari sentra-sentra genteng di delapan kabupaten/kota.
Jika IKM lokal mampu memenuhi standar dan volume, program ini berpotensi menggerakkan ekonomi kerajinan rakyat Jateng. Sebaliknya, pasokan dari luar daerah bisa mengambil porsi yang seharusnya dinikmati perajin setempat.