SLAWI — Kekeringan yang melanda Desa Karangmalang membuat sumber air di permukiman warga tak lagi bisa diandalkan. Warga yang mampu membeli air galon atau air isi ulang, sementara keluarga dengan ekonomi terbatas hanya bisa menunggu kiriman bantuan.
Nardi, warga setempat, menyebut sumur di rumahnya sudah tidak mengeluarkan air. Ia memastikan tetangga-tetangganya mengalami hal serupa.
"Sumur di rumah saya sudah kering. Warga lain juga mengalami hal yang sama. Kami kesulitan mendapatkan air bersih, apalagi sekarang musim kemarau," kata Nardi, Jumat (16/10/2026).
Kebutuhan rumah tangga tetap harus terpenuhi meski sumber air mengering. Warga yang memiliki uang memilih membeli air galon untuk minum dan memasak.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, pilihan itu tidak selalu tersedia. Mereka bergantung pada bantuan air bersih yang datang berkala.
"Kalau punya uang, kami bisa membeli air galon. Tetapi kalau tidak punya uang, ya terpaksa menunggu bantuan air bersih," ujar Nardi.
Nardi berharap pemerintah tidak berhenti pada penyaluran bantuan air yang sifatnya sementara. Menurut dia, persoalan sumber air di permukiman warga butuh penanganan yang berkelanjutan.
Ketersediaan sumber air alternatif, distribusi berkala, hingga solusi jangka panjang dinilai warga sebagai jawaban yang dibutuhkan. Ketergantungan pada kedatangan bantuan dinilai tidak menyelesaikan akar masalah.
Di tengah kesulitan itu, Paser Mania Tegal (PMT) bersama Kharisma Family dari Warteg Kharisma Bahari Group menyalurkan 10 tangki air bersih ke Desa Karangmalang. Bantuan itu menjadi penopang sementara bagi warga yang sumurnya mengering.
Penyaluran air bersih menyusul mengeringnya sumur-sumur warga di Kecamatan Kedungbanteng. Warga berharap langkah serupa diikuti pihak lain selama musim kemarau berlangsung.