SLAWI — Kepala Satpol PP Kabupaten Tegal Agus Sukoco melalui Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Nawawi mengakui intensitas penanganan hari itu di luar kebiasaan. Tiga panggilan darurat datang beruntun sejak siang hingga menjelang petang, memaksa armada bergerak tanpa jeda.
Pemicu ketiga insiden serupa: kebiasaan warga membakar sampah dan lahan, diperparah hembusan angin kencang yang membuat api cepat merembet ke vegetasi kering.
Rangkaian kebakaran dibuka di Desa Debong Wetan, Kecamatan Dukuhturi. Kebun dan lahan alang-alang milik Agus terbakar sekitar pukul 10.35 WIB, diduga kuat karena ulah oknum yang membakar lahan hingga api tak terkendali disapu angin.
Armada Pos Slawi meluncur pukul 10.40 WIB dan berjibaku hampir satu jam. Api baru benar-benar padam pukul 12.05 WIB.
Napas petugas belum sepenuhnya pulih ketika teror serupa berulang sore hari. Pukul 16.30 WIB, lahan alang-alang milik Tarmuji di Desa Ujungrusi, Kecamatan Adiwerna, dilalap api dengan penyebab senada.
Petugas bergerak cepat dan berhasil melokalisir kobaran api pada pukul 17.15 WIB.
Ujian terberat datang menjelang petang. Hanya berselang 15 menit usai penanganan di Ujungrusi, tepatnya pukul 17.30 WIB, panggilan darurat Call Center 112 kembali berdering.
Kali ini lahan alang-alang dan rumpun bambu milik Rusjo di Desa Bulakpacing, Kecamatan Dukuhwaru, ikut membara akibat pembakaran sampah. Petugas kembali tancap gas dan bertarung melawan waktu sebelum api padam total pukul 18.15 WIB.
Nawawi menegaskan rentetan insiden ini harus menjadi alarm keras bagi masyarakat. Menganggap remeh api kecil saat cuaca kering dan angin kencang, menurutnya, adalah tindakan yang sangat berbahaya.
"Dilarang membakar rumput atau sampah di siang hari, apalagi saat angin kencang. Ini sangat membahayakan dan memicu kebakaran besar," tegas Nawawi.
Ia mengingatkan kewaspadaan masyarakat adalah benteng utama. Sekali api membesar dan merembet ke vegetasi kering, penanganannya akan sangat menyita waktu serta mengancam keselamatan permukiman di sekitarnya.
Seluruh titik api di tiga desa itu dinyatakan padam tanpa laporan korban jiwa maupun kerusakan permukiman. Petugas Damkar Kabupaten Tegal tetap bersiaga penuh mengingat cuaca kering dan angin kencang masih berpotensi memicu kebakaran susulan.