SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyerahkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak dalam acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Ma'had Aly dan Santri Penggerak 2026. Total bantuan mencapai Rp 1 juta per orang untuk setiap semester, berlaku selama enam semester.
Penentuan penerima mempertimbangkan kondisi ekonomi dan capaian akademik. Pemprov Jateng ingin bantuan pendidikan menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan, sekaligus mendukung keberlanjutan studi para santri.
Gubernur: Santri Jaga Ilmu Dunia-Akhirat dan NKRI
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan posisi santri di tengah masyarakat. Menurutnya, santri tidak hanya memahami tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga tradisi keilmuan di perguruan tinggi.
"Santri adalah garda terdepan, tidak hanya ilmu dunia dan akhirat tetapi juga menjaga NKRI dari degradasi moral generasi muda," kata Ahmad Luthfi usai acara di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang.
Wagub Taj Yasin Rencanakan Gabungkan KKN Kampus Umum dan Ma'had Aly
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin menyampaikan program beasiswa tidak berhenti pada bantuan biaya pendidikan. Pemprov Jateng ingin mempertemukan mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi berbasis pesantren.
Pemerintah akan membuka peluang menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri Ma'had Aly. Mereka diharapkan bertemu di daerah pengabdian, bertukar pandangan, dan bersama-sama melihat kebutuhan masyarakat.
"Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus umum dan KKN dari Ma'had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti satu bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana," ujar Taj Yasin.
Alaika Hilma: Beasiswa Kurangi Beban UKT, Kuliah Lebih Fokus
Manfaat beasiswa dirasakan langsung oleh Alaika Hilma, mahasantri semester enam Ma'had Aly Yanbu'ul Qur'an (MAYQ) Kudus, jurusan Ulumul Qur'an, Fakultas Ushuluddin. Sebelum menerima bantuan, ia harus menjalani pekerjaan lepas untuk membantu memenuhi biaya kuliah.
Bagi Alaika, beasiswa dari Pemprov Jateng bukan sekadar bantuan finansial. Program ini mengurangi beban yang selama ini harus ia pikirkan di tengah kewajiban menyelesaikan pendidikan.
"Dengan adanya program ini saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi," ujarnya.
Proses pengajuan beasiswa di MAYQ Kudus berjalan lancar karena pihak lembaga turut membantu proses pemberkasan. Dari ma'had tersebut, sebanyak 13 mahasantri dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.