KARANGANYAR — Aktivitas di sejumlah sentra peternakan sapi di Kabupaten Karanganyar mulai menggeliat seiring meningkatnya permintaan hewan kurban. Pesanan dilaporkan terus mengalir dalam sepekan terakhir, baik dari pelanggan lokal maupun luar wilayah Jawa Tengah.
Didik Setiawan, seorang peternak sekaligus pedagang sapi di Kelurahan Jungke, mengungkapkan bahwa dirinya rutin menerima pesanan dua hingga lima ekor sapi setiap hari. Pola transaksi tahun ini mayoritas menggunakan sistem uang muka di awal, sementara pelunasan dilakukan saat mendekati hari penyembelihan.
“Yang paling banyak dicari sapi limosin metal dengan berat sekitar 400 sampai 500 kilogram,” ujar Didik, Sabtu (9/5/2026).
Selain menyasar segmen menengah, tren pembelian sapi kelas premium atau ukuran jumbo juga menunjukkan grafik peningkatan. Sapi dengan bobot mulai dari 8 kuintal hingga 1 ton menjadi incaran pelanggan khusus, terutama untuk dikirim ke wilayah Cirebon, Jawa Barat.
Harga untuk satu ekor sapi jumbo ini menembus angka Rp45 juta hingga Rp60 juta. Didik menyebutkan bahwa deretan pembelinya berasal dari kalangan tokoh publik hingga pejabat negara yang mencari kualitas fisik hewan terbaik.
“Kalau yang besar-besar banyak dikirim ke Cirebon. Pembelinya ada artis sampai anggota DPR,” katanya menambahkan.
Masyarakat yang hendak berkurban tahun ini perlu menyiapkan anggaran ekstra. Didik mencatat adanya kenaikan harga sekitar Rp2 juta per ekor jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh dua faktor utama: lonjakan permintaan pasar yang terjadi lebih awal serta naiknya biaya perawatan ternak harian.
Untuk mengantisipasi lonjakan pesanan yang diprediksi terus bertambah, Didik telah menyiapkan stok lebih dari 60 ekor sapi. Puluhan ternak tersebut saat ini tersebar di tiga lokasi kandang miliknya yang berada di Jungke, Gondangrejo, dan Kabupaten Boyolali.
Terkait kelayakan hewan kurban, Didik menjamin seluruh sapi dalam kondisi prima. Manajemen kandang dilakukan secara ketat dengan pembersihan area setiap pagi dan sore hari guna menjaga sanitasi lingkungan ternak.
Pemantauan kondisi fisik sapi juga melibatkan tenaga profesional secara berkala. “Pagi dan sore kandang dibersihkan, lalu mantri juga rutin datang mengecek kesehatan sapi,” pungkasnya.