400 Kapal Iringi Larung Sesaji Nelayan Tambaklorok Semarang, Kepala Kerbau Jadi Sesaji Utama

Penulis: Irfan Hakim  •  Senin, 11 Mei 2026 | 17:01:01 WIB
Sekitar 400 kapal nelayan mengiringi larung sesaji Kepala Kerbau di perairan Tambaklorok, Semarang.

Sekitar 400 kapal nelayan beriringan membelah perairan Utara Semarang dalam tradisi larung sesaji di Kampung Tambaklorok, Minggu (10/5). Ritual tahunan ini menjadi wujud syukur masyarakat pesisir atas hasil laut sekaligus doa keselamatan di tengah musim angin timur yang tengah melimpahkan tangkapan cumi-cumi dan rajungan.

SEMARANG — Kepala kerbau, hasil bumi, dan aneka makanan tradisional menjadi sesaji utama yang dilarung ke tengah Laut Jawa dalam tradisi Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok. Sebelum dilarung, sesaji diarak dari masjid menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat, lalu diantarkan oleh iring-iringan kapal nelayan yang dihias meriah.

Musim Cumi dan Rajungan: Tangkapan Nelayan Tembus 15 Kilogram Sehari

Di tengah prosesi yang berlangsung khidmat, para nelayan melaporkan musim tangkapan yang sedang membaik. Panitia Sedekah Laut dan Bumi Tambaklorok, Ahmad Sujud, menyebut nelayan kini tengah menikmati melimpahnya cumi-cumi dan kepiting rajungan.

“Alhamdulillah saat ini musim cumi sama rajungan, tangkapannya sehari itu bisa sampai sepuluh hingga 15 kilo,” ujarnya. Harga cumi menyentuh Rp50 ribu per kilogram, sementara rajungan mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Tema “Biru Lautku” Jadi Pengingat Bahaya Sampah Plastik

Tradisi tahun ini mengusung tema “Biru Lautku, Subur Bumiku, Makmur Rakyatku.” Menurut Ahmad Sujud, pesan itu sengaja diangkat untuk mendorong nelayan dan warga pesisir menjaga kebersihan laut dari sampah.

“Tema ini mengajak masyarakat untuk menjaga laut tetap bersih dari sampah supaya ekosistem laut tetap terjaga dan masyarakat pesisir bisa hidup lebih sejahtera,” tuturnya.

Wali Kota Semarang: Tradisi Ini Bukti Ketahanan Budaya

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti turut membaur di atas kapal bersama para nelayan. Ia menyebut larung sesaji bukan sekadar ritual, melainkan narasi ketahanan budaya di tengah modernitas Kota Semarang.

“Tradisi ini bukti bahwa masyarakat tidak pernah lupa pada asal-usulnya. Larung sesaji menjadi cerita tentang budaya, karya, karsa, dan rasa masyarakat pesisir,” kata Agustina.

Filosofi Sedekah Laut: Solidaritas dan Kewaspadaan Cuaca

Agustina mengingatkan bahwa filosofi sedekah laut harus diimplementasikan dalam aksi nyata, terutama menjaga ekosistem dan keselamatan kerja nelayan. Cuaca yang kian sulit diprediksi menjadi perhatian serius Pemkot Semarang.

“Tradisi ini harus menjadi penguat solidaritas masyarakat pesisir sekaligus pengingat bahwa pembangunan kawasan harus berjalan selaras dengan pelestarian budaya dan keselamatan nelayan sebagai penopang kehidupan maritim Kota Semarang,” tandasnya.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: lingkartv.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top