SOLO — Ekspektasi menyaksikan puluhan balon udara warna-warni memenuhi langit Kota Solo berubah menjadi realita pahit bagi pengunjung Festival Balon Udara Solo. Alih-alih menyaksikan atraksi udara, warga justru dihadapkan pada pemandangan balon-balon yang kempis tak bisa terbang dan kemacetan yang melumpuhkan kawasan Alun-Alun Utara sepanjang hari.
Pantauan di lokasi menunjukkan, sejak pagi hari antrean kendaraan mengular hingga ke Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Jenderal Sudirman. Warga yang datang bersama keluarga mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam di dalam mobil tanpa kepastian kapan bisa mencapai area festival.
Hingga berita ini diturunkan, panitia penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi mengenai penyebab utama kegagalan teknis balon udara. Namun, sejumlah pengunjung menduga kondisi angin yang tidak mendukung dan persiapan teknis yang kurang matang menjadi faktor utama.
"Saya sudah datang dari Karanganyar sejak subuh, bawa anak-anak. Sampai di sini macet parah, balonnya juga tidak ada yang naik. Tidak ada petugas yang memberi tahu apa yang terjadi," ujar salah seorang pengunjung, Rina Wulandari (34), kepada wartawan di lokasi.
Tokoh masyarakat setempat, Budi Santoso, menyayangkan sikap panitia yang minim edukasi informasi di lapangan. Menurutnya, kegagalan komunikasi ini justru memperburuk pengalaman warga yang sudah bersusah payah datang.
"Ini soal manajemen ekspektasi. Kalau memang ada kendala teknis, sampaikan sejak awal lewat pengeras suara atau media sosial. Jangan biarkan warga menunggu tanpa kepastian. Ini mencederai semangat festival yang seharusnya menjadi hiburan rakyat," tegas Budi saat ditemui di sela-sela acara.
Kemacetan yang terjadi tidak hanya berdampak pada pengunjung, tetapi juga warga yang tinggal di sekitar Alun-Alun Utara. Beberapa warga mengaku kesulitan keluar masuk lingkungan rumah karena akses jalan tertutup kendaraan yang parkir sembarangan.
"Biasanya jalan ini lancar, sekarang macet total. Saya sampai telat antar jemput anak sekolah. Parkir liar di pinggir jalan juga tambah parah," keluh Sari, seorang warga Kelurahan Keprabon.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo selaku penyelenggara. Warga berharap evaluasi serius dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang pada festival-festival mendatang.