SEMARANG — Sumarno menekankan bahwa meja makan keluarga seharusnya menjadi ruang interaksi, bukan tempat semua anggota keluarga sibuk dengan layar masing-masing. “Jangan biarkan meja makan kita sunyi, karena semua anggota keluarga sibuk,” tegasnya di hadapan peserta upacara.
Dalam amanat yang dibacakannya, Sumarno menguraikan bahwa tantangan keluarga saat ini tidak lagi sekadar ekonomi. Ancaman nyata datang dari disrupsi teknologi digital yang masuk secara radikal ke dalam rumah melalui gawai di tangan anak-anak. “Masuk secara langsung dan tanpa permisi ke ruang-ruang keluarga kita,” katanya, menggambarkan betapa cepatnya perubahan ini terjadi.
Ia juga menyoroti pergeseran nilai sosial dan ancaman siber sebagai konsekuensi dari era digital. Menurutnya, orang tua harus menjadi filter utama agar anak tetap memiliki kemampuan bersosialisasi dan karakter yang kuat.
Sumarno mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi. Namun, momentum ini bisa berubah menjadi bencana demografi jika kualitas sumber daya manusia tidak dibangun sejak dari keluarga. Ia menyebut tiga pilar utama yang harus diperkuat: kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.
“Kita tidak akan pernah bisa mencetak menteri yang hebat, jenderal yang tangguh, pengusaha yang jujur, dokter yang terintegritas, atau pekerja yang produktif, jika kita gagal membangun kualitas manusia itu dari lahir di keluarga,” ujar Sumarno.
Peringatan Harganas ke-33 ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh keluarga di Jawa Tengah. Sumarno mengajak semua pihak untuk menjadikan momen ini sebagai pengingat akan pentingnya peran keluarga di tengah tekanan ekonomi makro dan perubahan sosial yang cepat. “Mari kita jadikan keluarga hari keluarga nasional ini, sebagai momentum kebangkitan komitmen kita bersama,” pungkasnya.