PEKALONGAN — Sukirman sengaja memilih forum informal di Kampung Damai, Desa Kayugeritan, untuk menjaring masukan dari para aktivis dan tokoh masyarakat. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu, ia mengaku mendapat banyak teori kepemimpinan dari dua mantan pejabat yang pernah memimpin Kabupaten Pekalongan.
"Alhamdulillah, dua tokoh besar yang ada di Kabupaten Pekalongan, Pak Antono yang pernah memimpin kita sebagai Bupati, lalu kemudian Pak Dulmanan pernah memimpin kita sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, tadi melayani seluruh para aktivis Kabupaten Pekalongan yang hadir untuk memberikan prospek ke depan," kata Sukirman.
Dari diskusi tersebut, Sukirman merangkum tiga prioritas utama yang harus segera dijalankan. Pertama, memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Kedua, mengembalikan kembali kepercayaan warga terhadap pemerintah. Ketiga, memberikan pelayanan dan pembangunan terbaik.
"Skala prioritasnya adalah tadi tentu saja soal komunikasi, yang kedua adalah soal mengembalikan lagi kepercayaan pada masyarakat, lalu yang ketiga tidak jauh berbeda sebenarnya adalah soal memberikan yang terbaik, tanggung jawab kita kepada masyarakat. Terutama dalam bidang pembangunannya," jelasnya.
Amat Antono, yang memimpin Pekalongan dua periode (2001–2006 dan 2011–2016), memberikan wejangan spesifik. Ia menekankan bahwa setiap program pembangunan tidak boleh sekadar proyek seremonial, melainkan harus memiliki dampak besar bagi kemajuan daerah.
"Prioritas itu harusnya mempunyai daya ungkit. Setelah itu bekerjalah dengan fokus," tegas Antono.
Ia juga menyoroti kondisi internal birokrasi. Menurutnya, kekompakan aparatur sipil negara (ASN) menjadi prasyarat mutlak agar program apa pun bisa berjalan optimal.
"Salah satu kunci utamanya adalah merapikan barisan, menyatukan gelombang. Kalau aparatur sipilnya tidak kompak, kalau ASN-nya itu tidak satu gelombang, itu tidak akan optimal," ujarnya.
Sukirman mengaku bahwa masukan dari para aktivis yang hadir juga tidak kalah penting. Ia berharap forum semacam ini bisa menjadi agenda rutin, bukan sekadar pertemuan satu arah.
"Banyak teori-teori yang kita dapatkan dari pengalaman-pengalaman beliau, karena memang dua tokoh inilah yang menginspirasi para aktivis yang ada di Kabupaten Pekalongan sekaligus menginspirasi perjalanan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dari masa ke masa," ujarnya.
Pertemuan ini menjadi sinyal awal bahwa Sukirman ingin membangun fondasi kepemimpinan yang partisipatif, terutama di tengah masa transisi sebagai pelaksana tugas. Belum ada keputusan konkret yang diumumkan setelah dialog, namun Sukirman memastikan seluruh masukan akan dirumuskan dalam rencana aksi jangka pendek.