WONOSOBO — Hari-hari Turkini, 52, kini hanya diisi dengan duduk termangu di teras rumahnya. Matanya tak lepas memandangi jalan desa, menanti sosok Arifin Nurohmat, putra bungsunya, muncul dengan senyum hangat seperti biasa. Namun, hingga hari kedelapan, kabar tentang remaja yang hilang di Gunung Bismo itu belum juga terdengar.
"Perasaannya engga enak. Anak engga di rumah, khawatir. Makan saja engga ketelen," ujar Turkini kepada wartawan, Rabu (8/7/2026), suaranya parau menahan tangis.
Di tengah keheningan malam, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung barang rongsok itu mengaku tak pernah putus memanjatkan doa. "Saya doain terus biar cepat ketemu. Mujahadah setiap malam," ungkapnya, menggambarkan ikhtiar batin yang tak kunjung padam.
Kenangan akan Arifin begitu kuat. Di dalam rumah sederhananya, sebuah gitar buatan tangan korban masih tergantung rapi di dinding ruang tamu. Bagi Turkini, benda itu menjadi pengingat akan sosok anaknya yang rajin dan aktif. Arifin yang kini duduk di bangku kelas XII SMA dikenal sangat aktif mengikuti kegiatan Pramuka di sekolahnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari berbagai unsur masih terus melakukan pencarian di kawasan Gunung Bismo, Wonosobo. Medan yang terjal dan cuaca yang kerap berubah-ubah di lereng gunung menjadi kendala utama dalam proses evakuasi. Belum ada titik terang mengenai keberadaan remaja tersebut.
Warga sekitar berharap agar proses pencarian dapat diperluas dan melibatkan lebih banyak personel. "Kami hanya bisa berdoa dan berharap Arifin segera ditemukan dalam keadaan selamat," ujar salah seorang tetangga Turkini yang enggan disebutkan namanya.
Keluarga korban berharap ada informasi dari siapa pun yang melihat atau mengetahui keberadaan Arifin Nurohmat. Ciri-ciri fisik: tinggi sekitar 165 cm, rambut pendek, dan terakhir terlihat mengenakan jaket gunung berwarna hitam serta celana trekking abu-abu.