JAWA TENGAH — Fenomena ini bukan sekadar angka statistik. Edmunds, platform data otomotif, sudah memperingatkan lonjakan penolakan kredit baru sejak awal tahun karena banyak pemilik kendaraan era pandemi kini mencoba menukar mobil mereka. Masalahnya, hampir sepertiga dari mereka tidak memiliki ekuitas positif—artinya nilai mobil lebih rendah dari sisa utang yang masih berjalan.
Praktik menggulung utang negatif ke dalam kredit baru membuat pembeli secara efektif membayar dua mobil sekaligus, tapi hanya menikmati satu. Rata-rata cicilan bulanan bagi mereka yang membawa utang negatif mencapai 944 dolar AS—lebih mahal 167 dolar AS per bulan dibanding pembeli tanpa utang lama.
Departemen keuangan dealer kini mengeluh harus menghabiskan lebih banyak waktu per transaksi. Mencari pemberi pinjaman yang bersedia menyetujui kredit dengan beban utang negatif memperlambat proses, dan pada akhirnya merugikan konsumen lain yang masih menunggu di ruang pamer.
Yang lebih mengkhawatirkan, pola utang negatif kali ini tidak seperti biasanya. Umumnya, masalah ini menimpa pembeli yang memaksakan diri membeli mobil mewah dengan depresiasi tinggi. Namun data terbaru menunjukkan justru pemilik kendaraan yang dikenal tahan nilailah yang kini terperangkap.
Model seperti Toyota Tundra, Ford F-150, Jeep Wrangler, dan Honda CR-V—semua terkenal dengan nilai jual kembali yang baik—menjadi contoh kasus. Analis menegaskan pilihan kendaraan bukanlah akar masalah. "Yang patut disalahkan adalah persyaratan pembiayaan," ujar seorang analis kepada Automotive News. Harga jual yang lebih tinggi, markup dealer, dan suku bunga kredit yang mahal sejak era pandemi mendorong jumlah pinjaman membengkak hingga menjerat konsumen dalam masalah finansial.
Edmunds mencatat rata-rata pembeli yang membawa utang negatif saat tukar tambah memiliki beban hampir 7.000 dolar AS. Selama masa kredit, mereka membayar bunga sekitar 6.500 dolar AS lebih banyak dibanding pembeli rata-rata—angka yang 60 persen lebih tinggi. "Semua itu demi kesenangan mengulangi siklus yang sama tiga tahun kemudian," tulis laporan The Drive yang mengawali liputan ini.
Masalah ini bersifat siklus dan sulit diputus. Selama dealer masih menerapkan praktik markup dan konsumen tidak sadar akan beban jangka panjang dari utang bergulir, angka 30 persen itu berpotensi terus bertambah. Bagi pembeli di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat untuk selalu mencermati skema kredit dan nilai jual kembali kendaraan sebelum menandatangani kontrak pembiayaan.