JAWA TENGAH — Forum bisnis Indonesia-Korea di Seoul, Senin (27/7/2026), menjadi panggung baru bagi pemerintah untuk meyakinkan investor bahwa kebijakan ekonomi domestik tidak bersifat proteksionis. Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, secara eksplisit membantah kekhawatiran akan nasionalisme ekonomi.
"Indonesia tengah menyempurnakan berbagai kebijakan ekonominya. Namun, arah kebijakan tersebut bukan untuk menutup diri atau menuju nasionalisasi," kata Cecep dalam forum bertajuk Investing in Indonesia: Advancing Strategic Industrial Partnerships di Fairmont Ambassador Hotel, Seoul.
Pemerintah tidak hanya menawarkan pasar domestik yang besar. Dalam forum yang dihadiri 30 perusahaan dan asosiasi Korea itu, sejumlah insentif konkret dipaparkan. Mulai dari kemudahan perizinan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM hingga skema Local Currency Transaction (LCT) dari Bank Indonesia yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi bilateral.
Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi Kemlu RI, Daniel Tumpal Simanjuntak, menyebutkan realisasi investasi asing langsung Indonesia pada 2025 mencapai 21,4 miliar dolar AS. Ia secara khusus mengundang investor Korea masuk ke sektor semikonduktor, galangan kapal, serta pembangkit listrik tenaga nuklir modular skala kecil (SMR).
Sambutan positif datang dari pemerintah Korea. Direktur Jenderal Urusan ASEAN Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Lee Dong-gy, menyambut perluasan kerja sama ke sektor kendaraan listrik, energi bersih, dan kecerdasan buatan. Tiga sektor ini dinilai menjadi tulang punggung industrialisasi masa depan kedua negara.
Forum ini merupakan bagian dari implementasi Special Comprehensive Strategic Partnership (SCSP) dan Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA). Kedua kerangka kerja sama itu dirancang untuk memperdalam rantai pasok dan investasi strategis.
Bagi pelaku bisnis Indonesia, masuknya investasi Korea di sektor manufaktur maju dan energi bersih berpotensi membuka peluang transfer of technology dan penciptaan lapangan kerja baru. Sementara bagi investor Korea, kepastian kebijakan dan insentif fiskal menjadi jaminan utama.
"Kami tidak hanya mengundang investor datang, tetapi juga tumbuh bersama Indonesia sebagai mitra jangka panjang, dari manufaktur maju dan transisi energi hingga ekonomi digital," tegas Cecep.
KBRI Seoul mencatat, investasi Korea Selatan di Indonesia pada 2021–2025 mencapai 11,45 miliar dolar AS (sekitar Rp206,8 triliun), didukung ekspansi perusahaan-perusahaan besar Korea yang sudah lama beroperasi di Tanah Air.