Di jalan-jalan kampung Kota Solo atau di pelosok Desa Karanganyar, suara genderang dan alunan sinden masih sering terdengar dari rumah-rumah yang menggelar resepsi. Bukan sekadar pesta, pernikahan adat Jawa Tengah adalah pertunjukan nilai hidup yang dirawat dari generasi ke generasi. Saya sendiri beberapa kali menghadiri pernikahan kerabat di Klaten dan Sukoharjo—setiap prosesi dijalankan dengan ketelitian yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Masyarakat Jawa Tengah memegang teguh filosofi bahwa pernikahan bukan hanya urusan dua insan, melainkan penyatuan dua keluarga besar. Karena itu, setiap tahapan dari sebelum akad hingga resepsi sarat dengan simbol dan doa. Berikut tujuh tradisi yang masih konsisten dilestarikan hingga kini.
Siraman dilakukan sehari sebelum akad nikah. Kedua calon pengantin dimandikan dengan air bunga setaman oleh sesepuh keluarga. Prosesi ini melambangkan pembersihan lahir dan batin dari segala hal buruk di masa lalu.
Di beberapa daerah seperti Banyumas dan Pekalongan, siraman digelar di pendopo rumah dengan diiringi tembang macapat. Jumlah air yang digunakan ganjil—biasanya tujuh sumber—sebagai simbol harapan akan kehidupan yang selamat dan langgeng.
Malam midodareni adalah momen sakral ketika keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah wanita. Mereka membawa seserahan—biasanya perhiasan, pakaian, dan makanan tradisional—sebagai tanda kesungguhan.
Yang menarik, calon pengantin pria tidak diperkenankan bertemu langsung dengan mempelai wanita pada malam ini. Ia hanya duduk di ruang depan menerima wejangan dari orang tua. Tradisi ini mengajarkan pengendalian diri dan penghormatan terhadap prosesi adat.
Prosesi akad nikah di Jawa Tengah biasanya menggunakan bahasa Arab dan bahasa Jawa krama inggil. Penghulu atau naib membaca sighat taklik, lalu mempelai pria mengucapkan ijab kabul dengan suara jelas.
Di Surakarta, tradisi menyebutkan bahwa mahar berupa uang logam dan seperangkat alat salat masih menjadi pilihan utama. Jumlah mahar disepakati secara musyawarah, bukan angka pasti yang baku. Setelah akad, keluarga mempelai wanita menyalami tamu dengan sungkem—bentuk penghormatan tertinggi dalam budaya Jawa.
Panggih adalah puncak acara adat. Kedua mempelai dipertemukan di pelaminan dengan ritual saling melempar daun sirih (ngebekti) dan menginjak telur (wiji dadi). Telur yang pecah melambangkan harapan agar segera memiliki keturunan.
Ritual ini diiringi gendhing Jawa seperti Ketawang Subakastawa. Di beberapa tempat seperti Magelang dan Temanggung, panggih juga diisi dengan balangan gantal—daun sirih yang dilipat dan dilempar ke arah mempelai wanita sebagai simbol cinta yang tulus.
Setelah panggih, kedua mempelai bersimpuh di hadapan kedua orang tua. Mereka menyungkem—mencium lutut atau tangan—sambil memohon doa restu. Momen ini sering menjadi yang paling haru karena orang tua biasanya menangis haru.
Sungkeman mengajarkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa restu orang tua adalah kunci keberkahan rumah tangga. Di keluarga-keluarga tradisional Jawa Tengah, sungkeman dianggap sebagai syarat mutlak sebelum memulai kehidupan baru.
Kembar mayang adalah dua rangkaian janur yang dibentuk menyerupai gunungan atau payung. Biasanya dibawa oleh pengiring pengantin saat panggih. Fungsi kembar mayang adalah sebagai penolak bala dan simbol kesuburan.
Di Desa Prambanan, Klaten, pembuatan kembar mayang masih dikerjakan oleh perajin khusus yang mewarisi keahlian turun-temurun. Setiap elemen—mulai dari daun kelapa, bunga melati, hingga janur—memiliki makna filosofis yang dijelaskan saat prosesi.
Setelah resepsi selesai, keluarga inti mengadakan tirakatan—doa bersama di rumah mempelai wanita. Tirakatan biasanya diisi dengan pembacaan ayat suci Alquran, dzikir, dan doa selamat. Makanan yang disajikan adalah tumpeng dan ingkung ayam.
Tradisi ini mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya pesta, melainkan ibadah yang perlu didoakan oleh orang-orang terdekat. Di daerah Jepara dan Kudus, tirakatan kadang digabung dengan pengajian malam.
Apakah semua prosesi ini wajib dilakukan?
Tidak. Keluarga bisa memilih prosesi mana yang ingin dijalankan sesuai kesepakatan. Namun, sebagian besar keluarga Jawa Tengah masih menjalankan minimal siraman, panggih, dan sungkeman karena dianggap inti adat.
Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pernikahan adat Jawa Tengah?
Biaya bervariasi tergantung jumlah prosesi, dekorasi, dan jumlah tamu. Tidak ada patokan pasti. Sebaiknya konsultasi dengan sesepuh adat atau wedding organizer lokal untuk estimasi.
Apakah pernikahan adat Jawa Tengah bisa digabung dengan tradisi lain?
Bisa. Banyak pasangan yang menggabungkan adat Jawa dengan tradisi Sunda, Batak, atau bahkan pernikahan internasional. Kuncinya adalah komunikasi dengan kedua keluarga agar tidak ada yang merasa dilecehkan.
Di mana biasanya prosesi digelar?
Di rumah mempelai wanita, gedung pertemuan, atau pendopo desa. Tempat yang teduh dan luas menjadi prioritas karena banyak tamu yang datang.
Apakah tradisi ini masih relevan untuk generasi muda?
Sangat relevan. Banyak pasangan milenial dan Gen Z justru bangga menjalankan adat Jawa Tengah karena nilai-nilainya yang mendalam, seperti penghormatan kepada orang tua dan doa untuk keturunan.
Menjaga tradisi pernikahan adat Jawa Tengah bukan berarti menolak modernitas. Justru sebaliknya—dengan tetap menjalankan ritual-ritual ini, kita merawat identitas budaya yang kaya akan makna. Setiap tetes air siraman dan setiap langkah panggih adalah doa yang diucapkan dengan tubuh, bukan hanya dengan kata-kata.