JAWA TENGAH — Laporan keuangan kuartal kedua 2026 Samsung mencatat pendapatan ?171,5 triliun dan laba operasional ?89,5 triliun, dengan margin operasional 52 persen. Ini menjadi kuartal paling menguntungkan dalam sejarah perusahaan. Namun di balik angka fantastis tersebut, ada kabar buruk bagi konsumen: harga perangkat elektronik diprediksi terus merangkak naik.
Dalam panggilan konferensi dengan analis, produsen DRAM terbesar dunia ini menyatakan kekurangan pasokan memori yang saat ini melanda industri—dari server hingga PC gaming—tidak akan mereda sebelum 2028. Bahkan, Samsung memperkirakan kondisi tahun 2027 akan lebih parah dibanding 2026.
Argumen Samsung bersifat aritmatika, bukan spekulasi. Membangun pabrik fabrikasi baru dan mencapai tahap produksi wafer membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun. Artinya, peningkatan belanja modal yang sedang berlangsung di industri tidak akan menghasilkan output signifikan dalam waktu dekat.
Permintaan yang tidak terpenuhi tahun ini pun bergulir ke tahun berikutnya, memperketat pasokan. Lembaga riset TrendForce memperkirakan pasokan NAND baru akan longgar pada paruh kedua 2027, tetapi untuk DRAM, kapasitas tambahan baru benar-benar hadir pada 2028.
Data pengiriman Samsung menunjukkan betapa ketatnya kondisi saat ini. Pengiriman bit DRAM naik belasan persen secara kuartalan, melampaui target internal. Harga jual rata-rata melonjak sekitar 45 persen untuk DRAM dan mendekati 70 persen untuk NAND dalam satu kuartal.
Gartner memproyeksikan kenaikan harga DRAM dan SSD akan mendongkrak harga PC rata-rata sebesar 17 persen. Dampaknya, pengiriman PC global diprediksi turun lebih dari 10 persen—kontraksi terburuk dalam satu dekade terakhir.
Micron, salah satu produsen memori terbesar, bahkan menghentikan merek konsumen Crucial pada Februari 2026 untuk fokus melayani pelanggan AI enterprise. Langkah ini menjadi sinyal paling jelas ke mana arah prioritas industri.
Di tengah kekacauan pasar, Samsung justru melakukan perubahan struktural besar. Perusahaan mengalokasikan 60-70 persen kapasitas produksinya untuk perjanjian pasokan jangka panjang. Kontrak ini berdurasi lima tahun dengan negosiasi ulang tahunan.
Samsung telah menuntaskan kesepakatan dengan lima pelanggan pusat data global terbesar dan sedang dalam tahap akhir negosiasi dengan lima perusahaan lain. Perjanjian ini mensyaratkan pembayaran di muka yang substansial—sekitar seperempatnya sudah diterima Samsung. Untuk produk mainstream, kontrak juga memuat harga minimum yang cukup untuk menutup risiko investasi perusahaan.
Kebijakan ini melindungi Samsung dari siklus naik-turun pasar DRAM yang terkenal fluktuatif. Namun, divisi perangkat Samsung sendiri ikut menanggung beban: unit mobile dan jaringan mencatat kerugian operasional gabungan ?0,7 triliun pada kuartal tersebut, sementara unit display dan TV sama-sama melaporkan biaya memori yang menggerus profitabilitas.
Bagi konsumen Indonesia yang berencana membeli PC, laptop, atau konsol game baru, saran paling realistis adalah membeli lebih cepat daripada menunda. Dengan kontrak harga minimum yang mengunci mayoritas kapasitas produksi hingga 2028, ruang untuk penurunan harga ritel dalam dua tahun ke depan sangat tipis.