JAWA TENGAH — Kabar ini bukan sekadar prototipe. Tonly Heavy Industry, produsen alat berat asal China, telah menempatkan truk listrik K120E secara nyata di lokasi tambang batu kapur Tangshan Sanyou. Yang membuat lompatan ini signifikan bukan hanya ukuran truknya yang raksasa, melainkan jantung pacunya: baterai sodium-ion generasi baru yang dikembangkan bersama Hina Battery.
Teknologi ini menjawab kebutuhan tambang di wilayah utara China seperti Harbin dan Shenyang, di mana suhu malam hari kerap menyentuh minus 20 derajat Celsius. Pada kondisi tersebut, mesin diesel besar sering kesulitan dinyalakan, sementara baterai lithium-ion konvensional kehilangan efisiensi secara drastis.
Baterai "Haixing" yang disematkan pada K120E membawa spesifikasi yang sulit diabaikan pelaku industri tambang. Angka kepadatan energinya berada di level 165 Wh/kg, lebih rendah dari lithium-ion, namun kompensasinya datang dari daya tahan dan kecepatan pengisian.
Masalah suhu dingin bukan sekadar soal efisiensi, melainkan keselamatan pekerja. Truk yang mogok di area tambang terpencil pada suhu minus 30 derajat Celsius menempatkan operator pada risiko radang dingin dan hipotermia. Kendaraan listrik dengan baterai sodium-ion menghilangkan risiko tersebut karena sistem pemanas kabin dan komponen kelistrikan tetap berfungsi optimal.
Pengalaman serupa sudah terbukti di sektor transportasi lain. Bethany Aurinwhen, Direktur Transportasi West Grand County School District, menyatakan dalam wawancara 2024 bahwa bus sekolah listriknya tampil sangat baik bahkan saat suhu mencapai 30 hingga 35 derajat di bawah nol. "Ketika suhu mencapai minus 20 derajat, itu sudah hari yang baik," ujarnya, "dan bus listrik tampil sangat baik."
Keputusan Tonly mengadopsi baterai sodium-ion tidak lepas dari tekanan biaya dan regulasi emisi. Truk tambang diesel bersuara bising dan menghasilkan getaran yang dalam jangka panjang merusak pendengaran operator. K120E menghadirkan kabin yang lebih senyap, bebas polusi udara di area kerja, dan mengurangi cedera akibat kebisingan.
Langkah ini berjalan paralel dengan pengumuman Tonly bulan lalu: pengiriman 800 unit truk tambang otonom TLE135 ke Xinjiang Hanxiang. Kombinasi tenaga listrik, baterai sodium-ion, dan sistem otonom menciptakan paket nilai yang sulit ditandingi mesin diesel konvensional.
Ketergantungan pada lithium memang menjadi kekhawatiran geopolitik global. Sodium-ion menawarkan jalan keluar karena bahan bakunya melimpah dan tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Bagi industri tambang di Indonesia, teknologi ini layak dicermati mengingat banyak area operasi berada di lokasi terpencil dengan logistik bahan bakar yang mahal.
Belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana Tonly memasarkan K120E di luar China. Namun, dengan performa yang terbukti di tambang Tangshan Sanyou, tekanan terhadap produsen alat berat lain untuk mempercepat transisi ke elektrifikasi semakin nyata.