SD Muhammadiyah PK Solo Ajak 81 Murid Main Egrang dan Congklak demi Jauhkan Anak dari Gawai

Penulis: Joko Purnomo  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:39:32 WIB
Sebanyak 81 murid kelas III SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo mengikuti permainan tradisional egrang dan congklak di hall lantai 4 sekolah, Selasa (18/2/2025).

SOLO — Derai tawa memenuhi hall lantai 4 SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo. Sebanyak 81 murid kelas III mencoba berbagai permainan tradisional, mulai dari egrang, cublak-cublak suweng, jamuran, bakiak, hingga membuat pedang dari janur kelapa.

Mereka didampingi orang tua dan pengurus paguyuban kelas. Komunitas Anak Bawang Solo bertindak sebagai narasumber yang memperkenalkan sejarah, nilai, dan tata cara memainkan dolanan bocah.

Belajar Sportivitas dan Kerja Sama Lewat Dolanan

Koordinator Tim Kelas III, Lusia Wahyu Purbowati, mengatakan permainan tradisional punya peran penting di tengah derasnya arus teknologi digital. Aktivitas fisik seperti berlari, melompat, dan menjaga keseimbangan melatih motorik anak.

"Kegiatan ini bertujuan menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan bermakna sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional anak atau dolanan bocah kepada para murid," ujar Lusia.

Permainan kelompok mengajarkan anak berkomunikasi dan bekerja sama. Mereka juga belajar mengikuti aturan serta menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.

Alternatif Alami Kurangi Waktu Layar Anak

Salah satu pengurus paguyuban orang tua murid kelas III, Irma Nur Hidayati, menilai dolanan bocah bisa menjadi cara efektif mengalihkan perhatian anak dari gawai. Pendekatan ini lebih halus dibanding larangan atau perintah.

"Kegembiraan bermain permainan tradisional menjadi alternatif konkret bagi orang tua untuk mengalihkan perhatian anak dari layar gawai tanpa harus menggunakan metode komando atau larangan," ungkap Irma.

Kegiatan ditutup dengan pemberian kenang-kenangan berupa congklak untuk murid perempuan dan gasing untuk murid laki-laki. Sekolah berharap permainan itu terus dimainkan di rumah.

Melestarikan Warisan Budaya di Tengah Teknologi

SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo menempatkan dolanan bocah bukan sekadar warisan budaya, melainkan bagian dari pengalaman belajar menyenangkan. Permainan tradisional menjadi jembatan yang mempertemukan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kreativitas.

Melalui kegiatan ini, sekolah merespons realitas anak-anak yang kian dekat dengan layar digital. Dolanan bocah dihadirkan sebagai ruang bermain yang hidup, hangat, dan penuh makna.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: mettanews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top