Perpaduan Mitologi yang Absurd dan Memanjakan Mata
Satu hal yang langsung terlihat dari Tides of Annihilation adalah gaya visualnya yang mencolok. Bayangkan berjalan di museum yang hancur, diserang oleh ksatria raksasa dan monster bergaya Mesir, sementara karakter utama kita, Gwendolyn, seorang wanita asal Inggris, bisa memanggil ksatria Arthurian untuk membantunya bertarung. Mentor kita juga digambarkan sebagai dewa bela diri ala Tiongkok.
Perpaduan elemen yang berani ini memang terlihat seperti "semua dicampur jadi satu", tetapi justru di situlah daya tariknya. Benturan visual yang absurd ini berhasil membuat game ini berbeda dari kompetitornya di genre yang sama.
Sistem Kombo yang Menjadi Jantung Permainan
Bagian terbaik dari game ini jelas ada pada sistem pertarungannya. Rangkaian serangan dasarnya terasa cepat, responsif, dan nyambung satu sama lain. Kunci utamanya ada pada kemampuan memanggil ksatria—yang terasa seperti Stand dari Jojo's Bizarre Adventure—untuk melancarkan serangan tambahan yang spektakuler.
Salah satu ksatria yang menarik adalah Geraint, sosok mirip burung bersayap. Ia mengumpulkan resource saat kamu berhasil merangkai kombo, yang nantinya bisa ditukar dengan serangan aerial yang eksplosif. Sensasi merangkai berbagai serangan ini membuat game terasa seperti "kotak mainan" yang bisa dieksplorasi sesuka hati.
Mekanik "Simon Says" yang Bikin Greget
Namun, ada satu hal yang mengganggu: mekanik serangan musuh yang menyala dengan warna tertentu. Sama seperti di Stellar Blade, musuh (terutama boss) akan menandai serangan mereka dengan warna merah atau kuning. Pemain diharuskan bereaksi dengan cara spesifik—menekan tombol counter untuk serangan merah, atau melompat untuk serangan kuning.
Mekanik ini membuat pertarungan terasa seperti permainan Simon Says. Di tengah asyiknya merangkai kombo, kita harus berhenti dan menunggu reaksi yang sudah ditentukan. Bagi penggemar genre action yang mencari kebebasan berekspresi dalam bertarung, pola seperti ini terasa membatasi dan mulai membosankan.
Dua Pertarungan Boss yang Kontras
Di akhir sesi demo, saya mencoba dua pertarungan boss. Yang pertama melawan Mordred, sosok wanita berambut putih yang juga bisa memanggil ksatria. Pertarungan ini terasa hidup dan intens, dengan arena yang berubah-ubah dan serangan yang semakin absurd di setiap fase. Ini adalah contoh terbaik bagaimana game ini bisa menyajikan aksi yang sinematik dan menegangkan.
Kontras dengan itu, ada boss opsional bernama Geraint, seorang samurai iblis dengan katana listrik. Meski terlihat garang, ia dengan mudah ditaklukkan asalkan kita terus memperhatikan kilatan warna kuning dan merah pada serangannya. Hal ini membuktikan bahwa selama pemain patuh pada "aturan main" yang diberikan, tantangan yang ditawarkan bisa terasa dangkal.
Kesan Pertama: Berpotensi Besar, Tapi Masih Perlu Dirapikan
Secara keseluruhan, Tides of Annihilation memberikan kesan pertama yang positif. Ada banyak potensi emas di dalamnya, terutama pada sistem kombonya yang dalam dan memuaskan. Keinginan untuk terus bereksperimen dengan kombinasi ksatria dan senjata sangatlah besar.
Meski begitu, kekurangan pada mekanik reaktif dan bantuan navigasi yang terlalu berlebihan (seperti cat kuning dan petunjuk arah yang konstan) membuat game ini terasa terlalu "digendong". Jika developer bisa menyeimbangkan elemen-elemen ini, bukan tidak mungkin Tides of Annihilation bisa menjadi salah satu game action terbaik saat rilis nanti.
Reporter:Irfan Hakim
Sumber:eurogamer.netThis article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.