Debit Air IPA Kudu Menurun, 56 Wilayah Semarang Timur Alami Tekanan Air Lemah hingga Mati Total

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 23:04:02 WIB
Debit air di IPA Kudu menurun, menyebabkan tekanan air lemah hingga mati di 56 kelurahan Semarang Timur.

SEMARANG — Sebanyak 56 kelurahan dan kawasan permukiman di Semarang Timur kini mengalami gangguan pasokan air bersih imbas kemarau. Debit air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu, Kecamatan Genuk, menurun seiring berkurangnya ketersediaan air baku, sehingga tekanan air di rumah pelanggan melemah hingga aliran terhenti pada waktu-waktu tertentu.

Kepala Humas PDAM Tirta Moedal, Charisma Mayang Sari, membenarkan gangguan distribusi ini berkaitan langsung dengan menyusutnya pasokan air baku yang berasal dari Bendung Klambu.

"Penurunan ketersediaan air baku tersebut terjadi sebagai dampak musim kemarau. Kondisi ini berpengaruh terhadap proses produksi sekaligus pendistribusian air minum kepada pelanggan di sejumlah wilayah Semarang Timur," kata Mayang dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).

Mayang menyebut PDAM Tirta Moedal telah meningkatkan kesiapsiagaan dalam sepekan terakhir. Dampak kemarau terhadap pasokan air sendiri baru terasa belakangan, setelah dua pekan sebelumnya kondisinya masih normal.

"Sebetulnya dalam seminggu ini sih kita sudah siagakan terus, siap sedia terus. Karena memang makin ke sini, kemaraunya ini semakin kering. Sehingga kemarin itu dalam medium dua minggu yang lalu sih masih belum terasa dampaknya," jelasnya.

Keluhan Warga: Air Keruh dan Debit Mengecil

Gangguan ini mulai disadari warga saat air yang keluar dari keran berubah keruh dan berbau kaporit. Lia (35), warga Kecamatan Pedurungan, mengaku dalam sepekan terakhir pasokan air PDAM di rumahnya tidak lagi seperti biasa.

"Semingguan ini awalnya airnya keruh, lumayan kencang. Sadarnya ketika airnya ditampung di ember agak banyak, kok agak cokelat gimana," kata Lia saat dihubungi wartawan, Senin (31/8/2026).

"Berbau kaporit. Makin ke sini cuma warna cokelat ada, dan sudah nggak ada aroma kaporitnya. Dua hari terakhir debit airnya makin kecil, di rumah buat kamar mandi," ujarnya.

Penurunan tekanan air paling terasa ketika keran kamar mandi dan wastafel dinyalakan bersamaan. Air di salah satu keran tersebut cenderung tidak mengalir.

"Mulai dari tadi pagi ketika keran kamar mandi sudah aku buka dan itu tidak sekencang biasanya, keran wastafel tidak ngalir. Kayak harus salah satu yang nyala," ungkapnya. Lia memilih tetap menggunakan air PDAM untuk mencuci piring dan mandi, cuci, kakus (MCK), sementara mencuci pakaian memakai air sumur.

Keluhan serupa disampaikan Yosep (33), warga Kecamatan Tembalang. Dalam sepekan terakhir, aliran air PDAM di rumahnya beberapa kali berhenti, terutama pada sore hingga malam hari.

"Beberapa kali dalam sepekan ini, seperti jam 4 sore itu aku di rumah, mandi mau ngidupin PDAM itu nggak ngalir dan jam 8 malam nggak ngalir," katanya. Ketika kembali mengalir, tekanannya tidak cukup kuat untuk mengisi tandon bagian atas rumah. "Ngalirnya nggak kencang. Kemarin cuma bisa ngisi tandon bawah, nggak sampai atas," ucapnya.

Yosep juga mengeluhkan kondisi air yang berubah saat tekanan aliran berbeda. "Airnya PDAM aneh ya, kalau dikencengin itu butek seperti kemasukan tanah. Kalau sangat pelan itu malah jernih," keluhnya.

Wilayah Terdampak dan Permintaan Maaf PDAM

Berdasarkan data PDAM Tirta Moedal, kawasan yang terdampak meliputi Bukit Kencana Jaya, Bukit Sendangmulyo, Rowosari, Meteseh, Kebontaman, Kedungmundu, Sendangguo, Gayamsari Selatan, Kinibalu, Karanggawang, Plamongan Sari, Plamongan Indah, Penggaron, Pedurungan, Majapahit, Fatmawati, Klipang, Ketileng, Jomblang, Tentara Pelajar, Peterongan, Tanah Putih, Wahidin, Singotoro, Kaligawe, Padi, Kapas, Tenggang dan Cilosari.

Termasuk pula Sendang Indah, Masjid Terboyo, Pengapon, Raden Patah, Industri Kaligawe, Purnosari, Pasar Kobong, Genuk, Trimulyo, Widuri, Dongbiru, Karangroto, Kudu, Syuhada, Woltermonginsidi, Muktiharjo, Tlogosari, Tlogomulyo, Pedurungan Lor, Palebon, Soekarno-Hatta, Citarum, Progo, Pelabuhan, dan Ronggowarsi.

Mayang menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan atas kemungkinan gangguan pelayanan yang terjadi akibat kondisi ketersediaan air baku yang terus fluktuatif ini. Pihaknya belum bisa memastikan kapan pasokan air akan kembali normal karena bergantung pada debit air di Bendung Klambu.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: indoraya.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top