JAWA TENGAH — Keluarga Hartono menginvestasikan sekitar US$1,4 miliar atau setara Rp 24,9 triliun di luar negeri melalui sedikitnya sembilan entitas berbasis di Singapura dan London. Manajemen PT Djarum menegaskan langkah itu bukan pemindahan pusat bisnis, karena sekitar 90% investasi keluarga masih berada di Indonesia.
Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan menyatakan ekspansi lintas negara merupakan tahap lanjutan dari diversifikasi yang berlangsung puluhan tahun. Menurut dia, tidak ada perubahan semangat bisnis Grup Djarum dari masa lalu hingga kini.
"Memang dari awal kami bangun ini bisnisnya adalah ikut untuk bisa membangun Indonesia menjadi negara yang digdaya. Jadi (kami) ikut tumbuh bersama-sama negara ini," kata Budi kepada Katadata.
Investasi luar negeri itu dilakukan lewat sejumlah kendaraan yang berbasis di Singapura dan London. Namun perusahaan menolak anggapan bahwa langkah tersebut menandakan pergeseran pusat kendali bisnis ke luar yurisdiksi Indonesia.
Djarum bermula sebagai bisnis tembakau di Kudus, Jawa Tengah. Setelah Oei Wie Gwan meninggal pada 1963, bisnis dilanjutkan dua putranya, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.
Keduanya kemudian membawa Djarum keluar dari bisnis rokok semata. Diversifikasi berlangsung bertahap ke perbankan, elektronik, properti, perkebunan, consumer goods, telekomunikasi, hingga ekonomi digital.
Jejak bisnis keluarga Hartono kini mencakup:
BCA menjadi salah satu aset terpenting keluarga Hartono. Setelah Michael Bambang Hartono meninggal pada Maret 2026, struktur pengendalian PT Dwimuria Investama Andalan berubah.
Robert Budi Hartono menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir. Perubahan itu dicatat OJK pada akhir Juli 2026 dan diumumkan BCA pada awal Agustus.
Blibli sendiri melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022 melalui PT Global Digital Niaga Tbk dengan menghimpun dana sekitar US$510 juta.
Grup Djarum tidak hanya menambah usaha, tetapi juga memangkasnya. Perusahaan tengah menyiapkan delisting PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dari Bursa Efek Indonesia.
Langkah itu bagian dari restrukturisasi grup menara TOWR setelah perseroan masuk menjadi pengendali melalui anak usahanya, PT Iforte Solusi Infotek.
"Perubahan status menjadi perusahaan tertutup sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang Grup dalam rangka pengelolaan aset dan operasional yang lebih efisien melalui restrukturisasi dalam Grup," tulis manajemen IForte dalam penjelasan kepada BEI.
Polytron memperluas bisnis ke kendaraan listrik dengan meluncurkan mobil listrik pada 2025. Di properti, portofolio Grup Djarum antara lain mencakup Grand Indonesia.
Sejak 2024, Grup Djarum masuk ke kawasan industri modern Subang Metropolitan melalui penyertaan modal di PT Suryacipta Swadaya, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).
Komitmen itu diperkuat di pasar modal ketika PT Dwimuria Investama Andalan secara masif mengumpulkan saham SSIA di pasar reguler.
Pada 22 Juli 2025, Grup Djarum menyerap sisa saham treasuri hasil buyback milik SSIA sebanyak 62,93 juta lembar senilai sekitar Rp 169,4 miliar.
Akumulasi bertahap tersebut melampaui porsi kepemilikan pendiri lokal, Keluarga Suriadjaja. Proses itu berlangsung bersamaan dengan masuknya entitas yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu sebagai pemegang saham SSIA.
Per 17 September 2026, kepemilikan Grup Djarum di SSIA tercatat 482 juta saham atau setara 10,24%. Posisi itu menjadikannya salah satu pemegang saham institusi terbesar SSIA.
Bagi pemegang saham BBCA, perubahan struktur kendali di Dwimuria Investama Andalan menghapus potensi tumpang tindih kendali antar-generasi keluarga. Robert Budi Hartono kini menjadi satu-satunya pengendali terakhir.
Untuk SSIA, kehadiran Grup Djarum sebagai pemegang saham institusi besar memberi sinyal jangka panjang terhadap pengembangan kawasan industri Subang. Sementara rencana delisting IBST perlu dicermati pemegang saham minoritas, terutama terkait harga penawaran dan mekanisme exit.