Newcastle Kalah Lagi, Taktik Risk-and-Reward Matthias Jaissle Dipertanyakan

Penulis: Joko Purnomo  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 16:20:32 WIB
Kekalahan Newcastle dari Aston Villa memicu sorotan terhadap taktik Matthias Jaissle.

JAWA TENGAH — Newcastle United menelan kekalahan ketiga dalam empat laga terakhir Premier League setelah tumbang di tangan Aston Villa, dengan gol kemenangan dicetak Johan Manzambi. Kekalahan itu memantik gelombang boo dari publik St James' Park dan menempatkan taktik berisiko Matthias Jaissle di pusat sorotan.

Kekalahan di hadapan pendukung sendiri menjadi pukulan telak bagi Newcastle yang musim panas lalu belanja lebih dari 200 juta poundsterling untuk delapan pemain baru. Dari delapan rekrutan itu, empat di antaranya bahkan hanya duduk di bangku cadangan saat menghadapi Aston Villa.

Manzambi, gelandang Swiss berusia 21 tahun yang sempat menjadi target utama Newcastle, justru menjadi momok. Ia mencetak gol kemenangan lewat sundulan di babak pertama, sekaligus mendominasi lini tengah dengan pergerakan ke ruang-ruang kosong yang sengaja ditinggalkan formasi Jaissle.

Manzambi, Target yang Lepas ke Aston Villa

Kegagalan mendatangkan Manzambi disebut-sebut sebagai pemicu masalah yang kini dihadapi Newcastle. Gelandang itu sempat membawa Freiburg melaju ke final Liga Europa sebelum tampil menonjol di Piala Dunia, dan dinilai siap memberi dampak instan di Premier League.

Sebelumnya, Manzambi sempat diinginkan mantan pelatih Eddie Howe yang mundur pada akhir Juli. Kepergian Sandro Tonali dan Bruno Guimaraes membuat lini tengah Newcastle harus dirombak, dan Manzambi dianggap sosok yang bisa menyatukan semuanya.

Alih-alih mendapat gelandang nomor 10 spesialis, Jaissle memilih memainkan peran tersebut tanpa pemain yang benar-benar cocok. Yoane Wissa dan Joe Willock belum mampu mengklaim posisi, sementara rekrutan muda seperti Aladji Bamba dan Bazoumana Toure belum meyakinkan sang pelatih.

Risiko Tanpa Imbalan: 14 Gol Kemasukan

Newcastle telah kebobolan 14 gol di liga musim ini, terbanyak di antara semua tim saat artikel ini ditulis. Expected goals (xG) mereka juga menjadi yang terburuk kedua, hanya lebih baik dari Coventry City yang mencetak empat gol ke gawang mereka pekan lalu.

Jaissle memang dikenal mendorong sepak bola menyerang dan intens, tetapi hasilnya kini menuai kritik. Tiga laga pembuka Premier League tanpa kekalahan berbanding terbalik dengan tiga kekalahan dalam empat pertandingan terakhir.

Dukungan tetap mengalir untuk sang pelatih, namun tekanan untuk segera membenahi performa kian besar. Rangkaian laga melawan Crystal Palace, Everton dua kali di liga dan Piala, serta Fulham menjadi peluang sebelum menghadapi Arsenal, Brighton, Manchester United, dan Sunderland.

Jaissle Akui Fase Transisi Butuh Waktu

Usai pertandingan, Jaissle menegaskan bahwa perubahan besar di kursi pelatih dan komposisi skuad pasti menimbulkan gejolak di awal musim. Ia menyebut kekalahan ini sebagai bagian dari proses yang harus dilalui timnya.

"Anda butuh reality check setelah beberapa bulan dalam fase transisi," kata Jaissle dalam konferensi pers seusai laga. "Kami semua sudah memikirkannya. Akan ada pasang surut, saat ini sedang turun, itu tidak perlu diperdebatkan. Itu jelas."

Pelatih asal Jerman itu menilai timnya sudah bergerak ke arah yang benar di antara dua kotak penalti. Namun ia menuntut efisiensi dan ketajaman yang lebih baik di sepertiga akhir lapangan.

"Kami semua sadar ketika datang. Nama-nama besar meninggalkan klub sebelum dan sesudahnya. Kami tahu dengan pendekatan berani merekrut talenta muda, tantangannya akan lebih besar. Itu bukan alasan," ujarnya.

Newcastle memang memilih jalur peremajaan skuad di bawah arahan sporting director Ross Wilson. Namun ketidakseimbangan komposisi tim dan keraguan sang pelatih terhadap sejumlah rekrutan anyar membuat masalah kian rumit.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top