Sri Sultan HB X Sebut Jejak Sejarah Batang dan Yogyakarta Saling Terhubung lewat Peradaban Jawa

Penulis: Gunawan Susilo  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 06:16:31 WIB
Sri Sultan HB X menghadiri dialog budaya antara Pemkab Batang dan Pemda DIY di Aula Bupati Batang, Rabu (21/10/2026).

BATANG — Dialog budaya antara Pemerintah Kabupaten Batang dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta digelar di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Rabu (21/10/2026). Forum tersebut menjadi ruang menggali keterkaitan sejarah kedua wilayah sekaligus memperkuat komitmen pelestarian warisan budaya.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang juga Raja Kraton Ngayogyakarta, menilai pengalaman sejarah dan kondisi geografis Batang dan Yogyakarta memang berbeda. Namun keduanya tetap terhubung melalui dinamika perkembangan masyarakat Jawa.

Temuan Arkeologis di Indrajaya dan Degeng Jadi Petunjuk

Menurut Sri Sultan, sejumlah wilayah di Batang menyimpan peninggalan bercorak Hindu-Buddha. Temuan itu berupa prasasti, arca, dan sisa bangunan keagamaan di kawasan Indrajaya dan Degeng.

"Jejak tersebut menjadi petunjuk penting mengenai perkembangan kebudayaan di Batang pada masa awal, yang perlu dikaji lebih lanjut untuk memahami hubungannya dengan pusat-pusat peradaban lain di Jawa," tutur Sri Sultan HB X.

Ia menegaskan pusat-pusat peradaban tidak lahir dalam keterasingan. Pertukaran gagasan, perpindahan manusia, dan interaksi antarmasyarakat membentuk kekayaan budaya suatu wilayah.

"Perkembangan peradaban tidak berlangsung dalam keterasingan. Pertukaran gagasan, perpindahan manusia, dan interaksi antarmasyarakat turut membentuk kekayaan budaya suatu wilayah," lanjutnya.

Kisah Ratu Batang Dimakamkan Berdampingan dengan Sultan Agung

Sri Sultan juga menyoroti hubungan wilayah pesisir pada masa Mataram Islam. Dinamika itu tercermin dalam kisah Ratu Batang yang dimakamkan di kompleks pemakaman Imogiri, berdampingan dengan makam Sultan Agung.

Meski demikian, ia menekankan perlunya penelitian cermat untuk memahami berbagai versi sejarah soal asal-usul tokoh maupun peristiwa masa lampau. Penelitian sejarah perlu melibatkan sejarawan, arkeolog, budayawan, dan masyarakat agar warisan budaya dipahami lebih utuh.

"Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya pengetahuan sejarah, tetapi juga memastikan peninggalan budaya tetap terawat dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," harapnya.

Bupati Batang: Budaya Tidak Mengenal Batas Administratif

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menilai hubungan sejarah antara Batang dan Mataram menyimpan banyak cerita yang perlu terus digali. Kisah Ratu Batang, Sultan Agung, hingga jejak sejarah di Imogiri menjadi pengingat keterhubungan kedua wilayah.

"Jejak masa lalu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bagian dari identitas yang membentuk cara masyarakat memahami dirinya dan menentukan arah masa depan. Budaya tidak mengenal batas administratif. Ia mengalir seperti sungai, menghubungkan antartanah dan antargenerasi," terangnya.

Faiz menilai dialog budaya menjadi kesempatan penting bagi warga Batang memahami identitasnya sebagai bagian dari perjalanan peradaban Jawa, termasuk keterkaitannya dengan Mataram.

Ia mengingatkan masyarakat yang tidak mengenal sejarah dan jati dirinya berisiko kehilangan arah menghadapi perubahan zaman. Pemkab Batang berupaya menanamkan kesadaran sejarah dan budaya kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan, termasuk dialog budaya.

"Karena itu, Pemerintah Kabupaten Batang berupaya menanamkan kesadaran sejarah dan budaya kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan, termasuk dialog budaya," ungkapnya.

Kemajuan Daerah Perlu Sejalan dengan Nilai Budaya Leluhur

Faiz menegaskan kemajuan daerah tidak cukup diukur dari perkembangan ekonomi, sains, dan teknologi. Seluruh kemajuan itu perlu berjalan seiring nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

"Nilai gotong royong, penghormatan, dan kepedulian terhadap masyarakat harus menjadi bagian dari kehidupan di tengah perkembangan zaman. Pemahaman sejarah dan pelestarian budaya dapat menjadi fondasi untuk membangun masyarakat yang maju tanpa kehilangan jati diri," pungkas Faiz.

Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penerima perubahan, tetapi juga mampu menentukan arah masa depan tanpa meninggalkan akar kebudayaannya.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: lingkarjateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top