JAWA TENGAH — Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Koperasi resmi menjalankan piloting pengumpulan minyak jelantah berbasis Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di KDMP Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah. Program ini menyasar limbah dapur rumah tangga sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF) yang sudah diuji terbang di penerbangan komersial.
Kerja sama itu ditandai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Koperasi pada Kamis (29/10). Kolaborasi ini menghubungkan rumah tangga, warung makan, restoran, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pemasok minyak jelantah, dengan kilang Pertamina sebagai pengolahnya.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyebut program ini sebagai upaya menghubungkan potensi sumber daya domestik dengan kebutuhan industri energi melalui rantai nilai terintegrasi dari hulu ke hilir.
"Dari dapur warga, kita bangun fondasi pasokan. Melalui koperasi, kita perkuat pengumpulan. Dan dengan kapabilitas Pertamina dari hulu hingga hilir, kita jadikan minyak jelantah bagian dari solusi energi berkelanjutan," ujar Simon.
Pertamina telah mengolah used cooking oil (UCO) menjadi bahan bakar avtur nabati atau sustainable aviation fuel (SAF). Pengujiannya berlangsung bertahap, mulai dari pesawat CN235 beberapa tahun lalu, dilanjutkan bersama Garuda Indonesia, hingga uji terbang penerbangan komersial perdana Pelita Air rute Jakarta–Denpasar pada 2025.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra memastikan fasilitas pengolahan sudah siap. Kilang Cilacap disebut telah terbukti memproduksi SAF dengan katalis hasil inovasi dalam negeri, yakni Katalis Merah Putih.
"Pertamina Patra Niaga akan mengembangkan fasilitas lainnya, antara lain kilang Balongan, Dumai, dan Plaju. Karena itu, kepastian pasokan bahan baku menjadi hal penting agar pengembangan energi ini dapat berjalan secara berkelanjutan," kata Mars Ega.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan skema bisnis dirancang saling menguntungkan, dengan margin keuntungan yang jelas bagi anggota KDKMP. Minyak jelantah yang terkumpul dijual ke PT Pertamina Patra Niaga, diolah di kilang, lalu dipasarkan sebagai bahan bakar aviasi.
Ferry tidak menutup kemungkinan avtur berbahan baku jelantah ini diekspor. "Ini bisa menjadi model yang bisa digunakan di seluruh KDKMP di seluruh Indonesia," ujarnya.
Selain soal ekonomi, ada alasan lingkungan yang mendesak. Satu liter minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari setara satu juta liter air bersih.
"Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana mengajak masyarakat agar punya kesadaran terhadap lingkungan hidup. Minyak jelantah yang selama ini tidak pernah terpakai dan mereka buang, sekarang bisa dijual kepada kami melalui KDKMP," kata Ferry.
Pilot project di Banyumas disiapkan sebagai rujukan nasional agar semakin banyak KDKMP menjadikan pengumpulan jelantah sebagai unit usaha baru. Kampanye "Jelantah Jadi Berkah: Koperasi Menggerakkan Kesejahteraan Rakyat melalui Ekonomi Hijau" menjadi kendaraan komunikasinya.
PT Pertamina Patra Niaga melalui PT Pertamina Patra Logistik bersama Kementerian Koperasi akan memulai penyerapan dari koperasi desa tersebut. Bagi warga, limbah dapur yang biasanya dibuang kini punya nilai jual. Bagi Pertamina, pasokan bahan baku SAF terjaga tanpa bergantung pada impor.
Langkah ini memperluas rantai bisnis energi hijau Pertamina setelah uji komersial SAF di sektor penerbangan. Keberhasilan di Banyumas akan menentukan seberapa cepat model serupa direplikasi ke ribuan koperasi desa lain di Indonesia.