JAWA TENGAH — Tesla memastikan produksi Cybertruck di Gigafactory Texas akan dihentikan sekitar pertengahan tahun depan, menandai akhir perjalanan pikap listrik yang sempat diprediksi laku 250.000 unit per tahun. Keputusan Elon Musk lewat akun X pribadinya itu muncul setelah penjualan model ini konsisten jauh di bawah target, dengan harga varian termurahnya kini menembus USD 80.000.
Pengumuman Elon Musk lewat akun X pribadinya menyebut produksi Cybertruck di Gigafactory Texas berhenti sekitar pertengahan tahun depan. Kalimat itu mengindikasikan model tahun 2027 akan menjadi edisi terakhir pikap listrik tersebut. Musk tidak merinci apakah produksi bakal dipindahkan ke pabrik lain, tapi peluangnya kecil mengingat angka penjualan yang terus terseok.
Cybertruck pertama kali diperkenalkan sebagai prototipe pada 2019. Versi produksinya baru hadir sebagai model tahun 2024, dengan bentuk sasis dan bodi yang nyaris sama seperti konsep awalnya.
Sejak awal, Musk memproyeksikan Cybertruck bisa diproduksi hingga 250.000 unit per tahun. Realitasnya berkata lain. Penjualan model ini terus jatuh jauh di bawah angka tersebut sepanjang masa produksinya.
Seretnya permintaan bukan tanpa sebab. Harga menjadi faktor utama yang membuat Cybertruck sulit diterima pasar pikap listrik.
Saat ini Tesla membatasi pesanan Cybertruck hanya untuk varian Premium All-Wheel Drive di atas USD 90.000 dan Cyberbeast yang menyentuh angka enam digit. Varian Dual-Motor All-Wheel Drive dengan harga di atas USD 80.000 masih tercantum di situs Tesla.
Pencantuman varian termurah itu membuka kemungkinan Tesla membuka kembali pesanannya sebelum produksi benar-benar dihentikan. Namun dengan harga yang masih di atas USD 80.000, daya tariknya terhadap pembeli pikap konvensional tetap terbatas.
Bagi konsumen Indonesia, Cybertruck memang bukan kendaraan yang dijual resmi di pasar lokal. Keputusan ini lebih relevan sebagai cermin bagaimana pasar pikap listrik premium masih sulit menembus volume yang dijanjikan pabrikan.